PELAYANAN NAN TULUS

PELAYANAN NAN TULUS

A Boy was crying
Scared to see a doctor
In the small village
Free medical treatment given
Blessing to the villagers

===========

Un bimbo piange
Vedendo il dottore
In quel villaggio
Ma le cure offerte
Sono benedezioni

===============

Bocah menangis
Takut melihat dokter
Di kelurahan
Pengobatan yang gratis
Berkat tuk warga desa

Tanka, 9 Juni 2017
LisbethHo

“In the small village” – di kelurahan, kita banyak menemukan warga yang hidup tanpa topeng. Mereka hidup polos, jujur dan “sudah merasa cukup”. Itulah sebabnya kehidupan di alam pedesaan itu nyaman dan tenang. Maka,ketika kita merantau – kampung halaman – tidak pernah akan terlupa dalam ingatan. Tak heranlah jika Martialis (41 – 103) – penulis epigram Romawi – pernah berkata, “Rus mihi dulce sub urbe” – Aku sangat menyukai tanah yang letaknya dekat luar kota.

Yesus pernah bersabda, “Non ministrari sed ministrare” – Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Bdk. Mat 20: 28). Ini pula yang dikatakan Tacitus (55 – 117) – sejarawan Romawi – “Ruere in servitium” – maju (kerja) bersemangat dalam pengabdian.

Sering kita mendengar ungkapan begini, “Orang miskin dilarang sakit”. Hal ini dikarenakan sakit itu mahal. Orang-orang miskin tidak mampu membayar biaya yang begitu besar. Maka, kedatangan seorang dokter merupakan berkah bagi segenap warga. Bukankah Tuhan Yesus pernah bersabda, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit…” (Mrk 2: 17).

“Blessing to the villagers” – Berkat tuk warga desa. Masing-masing orang mendapatkan berkat, seperti yang sering kita dengar, “Tuhan tidak akan membukakan jalan, bila kita enggan untuk melangkah” (Author Unknown). Tentunya seluruh warga sangat berharap akan datangnya seorang dokter yang mau memberikan pelayanan secara gratis. Pepatah Latin menulis, “Spes est expectatio boni” – harapan adalah penantian kebaikan.

Para dokter yang datang ke desa itu membawa pelayanan yang tulus. Ketulusan dan hospitalitas itulah yang mempercepat kesembuhan. Maurus Terentius (76 – 138) – Ahli Tata bahasa Latin asal Mauritania – berkata, “Spem pretio non emo” – aku tidak memberikan uang untuk sebuah harapan. Namun, yang pasti adalah harapan kesembuhan bagi yang sakit. Orang yang sembuh itu, bagaikan “Rusa merindukan air” (Bdk. Mzm 63: 2 – 9).

A Boy was crying – Bocah menangis
Scared to see a doctor – takut melihat dokter
Dokter menakutkan bagi sang bocah. Mereka takut karena suntikannya yang menyakitkan. Tetapi yang menyakitkan bagi tubuh akan menyembuhkan. Tidak ada sesuatu hal dalam hidup itu tanpa perjuangan. Benar kata-kata Pemazmur, “Those who sow in tears will reap with song of joy” – Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai (Mzm 126: 5).

Selasa, 26 September 2017
Rm Markus Marlon

 

Catatan: Rm Markus Marlon adalah anggota Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias, sekarang berkarya di pedalaman Kalimantan dan berasal dari Gunungkidul

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *