Meriahnya Lomba Para “Kartini Muda” GMK

Dalam rangka memperingati hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2018, merealisasikan program kegiatan tahun 2018, serta mengakrabkan tali persaudaraan antaranggota paguyuban, ibu-ibu paroki dan WKRI ranting Kalasan mengadakan lomba membuat tumpeng nasi kuning, lomba pidato berbahasa jawa (sesorah), dan lomba senam Maumere.

Kegiatan tersebut mengambil tema KARTINI DAHULU, SEKARANG dan YANG AKAN DATANG.  Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 15 April 2018, dimulai pukul 10.00 dan baru selesai pada pukul 13.00. Lomba diadakan di ruang parkir pastoran baru dan SMP Kanisius Kalasan. Sebelum lomba dimulai, Romo Ambrosius Wagiman Wignyasumantara, Pr memberikan berkat agar seluruh rangkaian acara dapat berlangsung dengan lancar.

Panitia memberi dasar pertimbangan diadakannya lomba sebagai berikut. “Hidup itu akan indah dan berbahagia, apabila dalam kegelapan, kita melihat cahaya terang” sepotong kalimat yang diucapkan R. A Kartini semasa hidupnya ini mampu memberikan arti tersendiri dalam perjuangan meraih persamaan dan kesetaraan gender (emansipasi).

R. A Kartini yang lahir  di Jepara 21 April 1879 dikenal sebagai perintis perubahan bagi kaum perempuan. Ia lahir dari keluarga bangsawan, berpikiran maju, lincah, pintar, suka belajar dan haus akan ilmu pengetahuan. Ayahnya adalah Bupati Jepara, RMAA Sosroningrat dan ibunya Mas Ajeng Ngasirah. Kini R. A Kartini telah tiada. Cita- cita dan perjuangannya telah kita nikmati. Kemajuan yang telah dicapai kaum perempuan Indonesia sekarang ini adalah berkat goresan penanya semasa hidup yang kita kenal dengan buku HABIS GELAP TERBITLAH TERANG.

Kartini adalah seorang pahlawan yang luar biasa. Tanpa pengorbanannya, kita tidak bisa mencapai kemajuan seperti sekarang ini. Kita bisa mengenal ilmu, dan yang lebih penting lagi,  kaum hawa bisa memperoleh kesempatan yang sama dengan kaum adam. Dari R. A Kartini kita bisa belajar bahwa meskipun telah mendapat kesempatan yang sama dengan kaum adam, tetapi beliau tidak meninggalkan tugasnya sebagai seorang isteri. Bila semua kaum hawa seperti R.A. Kartini, pasti anak-anak di dunia ini akan bahagia karena ibu mereka adalah perempuan karir sekaligus ibu rumah tangga yang baik.

Peserta yang mengikuti kegiatan lomba merupakan perwakilan dari wilayah dan stasi yang ada di Paroki Kalasan. Kegiatan ini berlangsung semarak karena banyak sekali umat dari setiap wilayah/stasi yang memberikan dukungan semangat kepada peserta lomba. Antusiasme dari para peserta sangat terlihat meskipun cuaca terasa sangat panas. Pengumuman lomba sendiri langsung diumumkan secara bersamaan sebelum acara ditutup.

Berikut adalah para pemenang lomba.

  1. Lomba Tumpeng

Juara I : Wilayah Petrus Damianus (No. Undian 3) dengan perolehan nilai sebesar 1255

Juara II: Wilayah WKRI Tirto Timur (No. Undian 9) dengan perolehan nilali sebesar 1215

Juara III: Wilayah WKRI Tirto Barat (No. Undian 8) dengan perolehan nilai sebesar 1200

 

  1. Lomba Senam Gemufamire

Juara I: Wilayah Petrus Damianus Kal- Tim (No. Peserta 3) dengan perolehan nilai 278

Juara II: Wilayah Agatha (No. Peserta 13) dengan perolehan nilai 276

Juara III: Wilayah Berbah (No. Peserta 6) dengan perolehan nilai 275.

  1. Lomba Pidato Berbahasa Jawa

Juara I: Wilayah Stasi Maria Bunda Allah Maguwo (No. Peserta 10) dengan polehan nilai 1285.

Juara II: Wilayah Stasi Maria Bunda Allah Maguwo (No. Peserta 7) dengan perolehan nilai 1283.

Juara III: Wilayah Petrus Damianus (No. Peserta 4) dengan perolehan nilai 1275

Elisabeth Siwi Walyani, salah satu pengurus WKRI, memberikan kesannya terhadap kegiatan lomba “Jika dilihat dari antusias peserta, yang paling mengesan dalam kegiatan lomba yang berlangsung pada minggu kemarin para peserta dapat saling bertemu, bertatap muka langsung dengan ibu-ibu dari semua wilayah di Gereja Marganingsih Kalasan dan WKRI seluruh anak ranting yang ada di Kalasan, dan secara konkret peserta atau ibu-ibu bisa menunjukkan kreatifitas masing-masing, selain itu secara tidak langsung bisa belajar dan saling membagikan keahliannya masing-masing.” Seluruh rangkaian kegiatan diakhiri dengan para peserta lomba d an Romo Wignya menari bersama dengan diiringi alunan musik senam maumere.

Perempuan adalah aset keluarga karena perempuan adalah tempat dimana anak- anak pertama kali mendapatkan pendidikan. Perempuan adalah aset bangsa. Dari perempuan akan lahir keturunan yang luar biasa. Perempuan adalah surga bagi putra- putri bangsa. Bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa “Surga ada di telapak kaki ibu”. Perempuan adalah tempat untuk berbagi. Perempuan memang terlihat lemah, tetapi sejatinya perempuan adalah makhluk yang sangat kuat.

Semoga perjuangan yang telah dilakukan oleh RA Kartini dapat menginspirasi kita semua dan tidak hanya sebagai seremonial yang diperingati setiap tahunnya, namun mampu mewariskan makna yang bisa dipetik dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan Pernah MenyerahTeruslah Berjuang untuk Kemajuan dan Kemandirian Kaum Perempuan Indonesia.”

catatan:

Liputan dan  foto dikirim oleh Monica Aurelia

 

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *