Kegiatan Makrab OMK di Wisma Salam Berlangsung Sukses.

Komsos- GMK. Pada Sabtu-Minggu tanggal 2-3 September 2017 sebanyak 40-an OMK dari wilayah Petrus Damianus dan Yohanes Paulus 2, Kalasan Timur mengadakan acara Makrab (Malam Keakraban) di Wisma Salam, Magelang. Dalam wawancara dengan Komsos-GMK, Yustinus Aristya Prabowo (atau lebih akrab dipanggil Aris) yang bertindak sebagai ketua panitia Makrab menjelaskan bahwa pada hari Sabtu tanggal 2 September rombongan berangkat dari GMK pukul 2 siang dengan menyewa 2 bis menuju ke Wisma Salam, Magelang. Dia menjelaskan juga bahwa Robertus Harinanto, ketua wilayah Petrus Damianus, bersama St. Hendri W. (prodiakon) berkenan hadir dan mendampingi pada Sabtu siang, sedangkan pada malam harinya hadir pula rombongan lain diantaranya keluarga dari ketua wilayah Johannes Paulus 2 yaitu Aloysius Agung Budi Astana dan Keluarga Bayu bersama dengan Romo Laurensius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr.

 

Aris memaparkan bahwa kegiatan pada hari Sabtu dimulai dengan kegiatan games perkenalan diri dan games eja kata. Pada malam hari kegiatan kemudian dilanjutkan dengan acara sarasehan selama 2 jam yakni mulai pukul 8 sampai 10 dan ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh romo Merdi Perayaan Ekaristi dengan romo Merdi ini juga sekaligus sebagai ajang perpisahan romo Merdi dengan OMK, wilayah Petrus Damianus dan Yohanes Paulus 2, Kalasan Timur.

Dalam acara sarasehan tersebut menghadirkan 5 nara sumber yakni Markus Sukarno W., Ignasius Yulianto P. , Dwi Jati Purnomo, Emanuela Sarasmia Sinuci dan Raditya Bimo.  Markus Sukarno W. memaparkan gambaran mudika pada masanya dan Ignasius Yulianto P. atau lebih akrab dipanggil Ius memaparkan tentang kegiatan OMK yang terjadi baru ini, diantaranya kegiatan kirab salib AYD. Ius juga berbagi tentang apa yang dibutuhkan OMK paroki saat ini agar bisa dan mau terlibat di dalam wadah OMK paroki.

Sementara itu Dwi Jati Purnomo yang dulu sangat aktif di OMK dan majalah Sangkakala dan sekarang sudah bekerja di PT Maks lebih banyak menjelaskan mengenai gambaran umum OMK. Ada beberapa tingkatan OMK yakni terdaftar, intelektual, emosional dan religiusitas. OMK yang terdaftar artinya karena usia seseorang sudah memasuki masa remaja maka secara otomatis dia akan disebut OMK. Tingkatan yang kedua adalah intelektual, artinya OMK yang mampu mengembangkan bakat dan kreaktivitasnya untuk turut mengembangkan gereja. Tingkatan yang ketiga adalah emosional yakni sudah adanya keterikatan dan tanggung jawab dari OMK untuk turut memiliki OMK sehingga selalu memunculkan kerinduan untuk bertemu dengan sesama OMK. Tingkatan emosional ini biasanya dimiliki oleh para pengurus. Sedangkan tingkatan religiusitas memungkinkan anggota OMK untuk turut terpanggil menjadi biarawan dan biarawati. Jati Purnomo memberi saran kepada peserta makrab agar cerdas membagi waktu antara studi dengan kegiatan mengereja.

Sementara itu, Emmanuela Sarasmia Sinuci menjelaskan bagaimana dia dulu tidak bisa merasakan kekompakan Mudika waktu itu karena dulu, belum sekompak seperti OMK saat ini. Emma, menjelaskan bahwa pada masa mudanya ada masa vakum OMK dimana tidak ada kegiatan OMK yang dilaksanakan dan terjadi kevakuman kepengurusan waktu itu. Dengan bijak Emma juga menjelaskan bahwa bagi dia melibatkan diri di OMK itu bisa dijadikan sarana untuk penyalur berkat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas segala berkat melimpah yang diterimanya. Sejak saat itu Emma kemudian mencoba menggerakan dan menyatukan OMK dengan sering mengadakan pertemuan rutin.

Sedangkan Raditya Bimo atau lebih akrab dipanggil Didit menjelaskan bahwa setiap angkatan pasti mempunyai kisahnya sendiri, maka ia pun mengajak OMK yang sekarang ini untuk membuat kisahnya atau sejarahnya sendiri yang baik. Berdasarkan pengalaman pribadi, Didit menjelaskan bahwa OMK pada waktu itu menjadi wahana pelarian yang positif bagi dia karena kurangnya unsur kekatolikan dalam keluarganya.

OMK menjadi tempat membina imannya dan di dalam OMK bisa menumbuhkan kerinduan untuk bertemu dengan rekan-rekan OMK lainnya. Bagi Didit, OMK bisa menjadi keluarga kecilnya, tempat dia bisa berbagi, bersendau gurau, tumbuh sekaligus berkembang ke arah positif dan meninggalkan “kenakalan-kenakalan” kecil yang pernah ia lakukan.

 

Sesudah acara sarehan berakhir, kegiatan makrab kemudian dilanjutkan dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Romo Merdi. Di sela-sela homilinya, romo Merdi juga memberikan games “ups and down” dan ini sangat menarik sekali. Romo Merdi mengungkapkan kekagumannya dengan semangat yang ditunjukkan peserta makrab. Romo Merdi juga berharap bahwa OMK yang baru bisa meneladani semangat para senior OMK. Acara makrab pada hari Sabtu itu kemudian ditutup dengan acara pelepasan lampion harapan. Peserta OMK diminta menuliskan harapan-harapan pada secarik kertas dan kemudian kertas tadi diikatkan pada lampion yang kemudian diterbangkan di tepian sungai Krasak, dengan diakhiri nyala kembang api..

Kegiatan makrab pada hari Minggu, 3 Sept 2017 dimulai dengan kegiatan outbound yang dimulai pukul 5.30 dan berlokasi  di sekitar halaman wisma. Permainan outbound yang dilaksanakan antaran lain jaring laba-laba, estafet tepung, memukul air, bola gantung, dan games ular-ularan. Tujuan dari kegiaan ini selain untuk ajang hiburan juga untuk semakin mengakrabkan semua OMK yang hadir agar tidak ada lagi jarak di antara peserta dan kelak mereka bisa dengan mudah menjalin komunikasi. Sesudah outbound kemudian dilanjutkan dengan acara “merangkum acara” yang menceritakan tentang kiprah angkatan OMK saat ini.

Aris menjelaskan bahwa OMK Petrus Damianus sudah berdiri sejak tahun 2012, resmi di tahun 2013 dan berharap bahwa OMK yang baru bisa melanjutkan kepengurusan OMK ini. Aris bercerita bahwa pada awalnya tidaklah mudah mengumpulkan OMK. Rapat pertama hanya dihadiri oleh 4 orang, tetapi bersyukurlah karena pada pertemuan selanjutnya jumlah OMK yang hadir bisa bertambah banyak, mulai dari 10, 15, dan suatu kali pada pertemuan dihadiri 40 an OMK. Ini sungguh perkembangan yang luar biasa. Aris juga menambahkan bahwa acara pertama yang menandai kepengurusannya adalah kegiatan sepeda gembira dan acara makrab ini menandai berakhirnya masa kepengurusannya. Suka-dukanya menjalankan kegiatan OMK kemudian divisualisasikan melalui tayangan video dan foto-foto.

 

“Saya berharap setelah masa kepengurusan saya ini usai, kepengurusan baru bisa terbentuk dan kegiatan OMK akan terus berlanjut.” ungkap Aris sambil tersenyum bangga.

Berkaitan dengan wacana pemekaran wilayah yang semula hanya ada satu wilayah, kemudian berkembang menjadi 2 dan sekarang menjadi 3 wilayah, Aris sungguh berharap bahwa pemekaran ini diharapkan semakin mampu memberdayakan OMK dan bukan sebaliknya. Memang dibutuhkan waktu untuk mensinergikan seluruh potensi OMK yang ada di ketiga wilayah.

“Saya secara pribadi sangat senang dengan kegiatan Makrab ini karena OMK bisa berkumpul kembali dalam satu wadah dan di situ kita bisa membangun harapan-harapan positif terhadap OMK,”tegas Aris dengan nada suara sangat positif, mengakhiri wawancara dengan Komsos-GMK

catatan: foto dan sumber tulisan dari wawancara dengan Yustinus Aristya Prabowo

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *