MENGADU PADA TUHAN oleh Rm Markus Marlon

The clink of a harp

Painful shrill of bamboo flute

Grief of young lady

Cry in pray unto the Lord

Heartbreak of her wounded love

(translated by LisbethHo)

 

Denting kecapi

Lengking pedih seruling

Duka si mojang

Mengadu pada Tuhan

Cintanya yang terluka

 

Catatan: mojang – dara

Ang Jasman

Kesedihan sungguh-sungguh merupakan pengalaman yang amat dekat dengan manusia. Mungkin kita pernah mendengar kiprah seorang pendeta yang bernama Richard Wurmbrand. Dalam bukunya yang berjudul, “Tortured for Christ” – Menderita bagi Kristus, sang pendeta merasa sangat sedih, menderita dan berduka, namun mampu melewati masa-masa krisis tersebut. Barangkali  ini seperti pengalaman George Fridrich Händel yang menciptakan oratio agung yang berjudul, “Messiah”. Händel mengalami penolakan dan dianggap karier musiknya sudah berakhir.

Memang, kadangkala kita ini sering merana dan merasa sendiri. Ini seperti menjadi anak rantau yang berkidung, “Super fumina Babylonis” – di tepi sungai-sungai Babylon (kita duduk sambil menangis) yang tentu sangat menyedihkan (Bdk. Mzm 137). Dalam situasi hati yang demikian itulah hanya Tuhanlah andalan kita.

Photo taken from: https://jamestabor.com/praying-to-jesus-from-jewish-messiah-to-incarnate-god/

“Cry in pray unto the Lord” – Mengadu kepada Tuhan, adalah ungkapan yang sering kita alami.  St. Monica, ibunda Agustinus setiap hari mengadu kepada Tuhan agar sang putra berubah. Kamudian uskup Abrosius menghibur Monica dengan kata-kata, “Anak yang didoakan dengan banyak air mata, mustahil ia binasa.” Dan ketika kita mengadu kepada Tuhan sering kita bermazmur,  “Tuhan sudi dengarkan rintihan umat-Mu”.

Orang yang mengadu, berarti dirinya membutuhkan tempat aduan. Dalam kitab Mazmur sering disebut: pengungsian, gunung batu atau tempat perlindungan, “Be my rock of refuge, to which I can always go…” – Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh (Mzm 71: 3). Demikian pula, orang yang sedang mengalami patah hati, tentu membutuhkan teman bicara, tempat curhat supaya dirinya merasa “plong!” dan damai di hati.

http://reborn2write.blogspot.co.id/2013/01/jesus-holy-hug.html

“Heartbreak of her wounded love” – Cintanya yang terluka. Hati yang luka itu sering kita temui dalam Kitab Suci. “Robek jiwa” (Ams 27:9), “Remuk hati” (Yes 61: 1) dan “Luka hati” (Mzm 147: 3).  Di sana orang yang sedang menderita luka itu ingin disembuhkan,  “Comfort, comfort my people…” – Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku (Yes 40: 1).

Setiap orang mendambakan kesembuhan. Tuhan Yesus datang untuk membawa kesembuhan, “Non est opus valentibus medicus, sed male habentibus..” – bukan orang yang sehat yang membutuhkan tabib, tetapi orang yang sakit (Mat 9: 12). Kasih-Nya yang lembut dan murah hati itulah yang menyembuhkan.

 

Sabtu, 9 September 2017 –  By Romo Markus Marlon

 

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

One thought on “MENGADU PADA TUHAN oleh Rm Markus Marlon

  1. Pangau Moningka 30/08/2020 at 17:29

    Tulisannya bagus beliau memang jenius banyak membaca sehingga kata-katanya nyambung dengan artikel atau referensi yang beliau dapat.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *