Selapanan

selapanan

Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi 2018 – Hari ke – 12

-Merenungkan-
Selapanan

Dalam sebuah kunjungan keluarga di lingkungan, seorang Rama mengunjungi sebuah keluarga muda. Keluarga ini sedang berbahagia karena lahirnya anak pertama mereka. Rama pun bertanya kepada mereka, kapan anak ini akan dibaptis.

Kedua orang tuanya menjawab, “Nanti kalau sudah selapanan, Rama.” Rama pun mengangguk-angguk: “Oke, kalau begitu, yang penting jangan ditunda terlalu lama, ya.” Sambil memberkati anak itu, Rama berkata, “Adi (nama anak itu), kamu segera Baptis dan jadi anak Tuhan, ya!”

selapanan

Tradisi selapanan termasuk bagian dari “adat selamatan” dalam budaya Jawa untuk mendoakan bayi yang berusia 35 hari. Selapan berarti tiga puluh lima hari yang merupakan hasil perkalian antara tujuh hari (hitungan minggu) dan lima hari (hitungan pasaran Jawa). Orang Jawa menyebutnya sebagai “hari weton” dari kelahiran.

Tradisi selapanan sering diawali dengan ritual pemotongan rambut dan kuku bayi, tumpengan, dan doa. Kadang, ritual tersebut tidak selalu dijalankan semuanya, tetapi hanya sebagian saja. Tentu hal ini tidak menjadi masalah, karena yang penting adalah doa atau sembahyangan untuk memohon keselamatan, berkat, dan perlindungan terhadap anak dan orang tua yang didoakan.

Bagi orang Katolik, ibadat selapanan menjadi upacara selamatan model Katolik. Isi pokok ibadat selapanan adalah pujian syukur kepada Allah Sang Pencipta yang telah menganugerahkan anak kepada keluarga tersebut, sambil memohon berkat perlindungan dan kesehatan bagi bayi serta keluarga itu.

Ibadat selapanan dapat dihubungkan dengan kisah Keluarga Kudus Nazaret, yaitu Santo Yusuf dan Bunda Maria yang mempersembahkan Yesus ke Bait Allah. Sebagai tindak lanjut ibadat selapanan semestinya adalah penerimaan Sakramen Baptis untuk bayi itu yang hendaknya segera diadakan sesuai kebiasaan Paroki masing-masing.

Saat dibaptis itulah, bayi ini sungguh-sungguh resmi menjadi anak Tuhan dan warga Gereja. Dan di saat itu pula, seluruh Gereja mengalami sukacita sejati karena anak itu dilahirkan kembali, yakni lahir dari air dan Roh (bdk. Yoh. 3:5).

Rm. R. Budiharyana, Pr.

ROMO VIKEP SURAKARTA

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *