Malam Penangkapan Yesus

Oleh C. IsmulCokro

Malam yang dingin. Saya baru datang dari rumah dan siap menjaga toko kelontong milik majikan. Suasana malam di sekitar toko dan kedai lain berasa beda. Beberapa tempat yang biasanya digunakan untuk duduk bergerombol tampak sepi. “Ada apa dengan malam ini,” batinku. Sebagai sosok sekuriti, situasi seperti itu menjadi perhatian tersendiri.

Rasa nikmat mengalami suasana malam belum tuntas. Tiba-tiba pandangan mata saya ditarik kekuatan luarbiasa. Ya! Saya melihat sekelompok orang keluar dari salahsatu ruang pertemuan yang kurang lebih berjarak dua atau tiga blok dari lokasi saya.

***

Saya mendapat slentingan kabar. Dua belas orang yang berduyun-duyun itu tak lain adalah Yesus, orang Nazareth bersama sebelas murid-Nya. Sosok Yesus telah memikatku. Saya belum pernah bertemu dengan-Nya. Saya hanya banyak mendengar kisah-Nya, entah ketika Ia menyembuhkan orang yang sakit kusta, mencelikkan mata orang buta, membuat orang tuli bisa mendengar atau bahkan aksi-Nya yang luar biasa; memasuki kota Yerusalem dan dielu-ekukan sebagai raja. Fenomena terakhir ini tentu saja memerahkan telinga dan membuat gejolak pemerintah Romawi. Sangat politis dan subversif! Begitulah sekelumit pengetahuan saya tentang Yesus.

Daya magnet Yesus sungguh  luar biasa bagi diri saya. Kekuatan itu pula merasuki alam sadarku, menggerakkan saya untuk melangkahkan kaki dan meninggalkan toko kelontong milik majikan. Saya mengikuti Yesus yang sedang berjalan bersama sebelas murid-Nya. Sejenak, saya dapat membayangkan, barangkali pengalaman yang sama juga dialami para nelayan yang sampai saat ini setia kepada-Nya.

Saya mengambil jarak dengan Yesus dan sebelas murid yang menyertai-Nya. Layaknya aksi spionase, saya hanya menguntit ke mana mereka pergi.

Dalam jarak tertentu, saya masih mengikuti perjalanan Yesus bersama sebelas murid-Nya. Dari kejauhan, saya melihat mereka menyeberang Sungai Kidron. Sebenarnya, sungai Kidron bukan seperti sungai pada umumnya, yang mengalirkan air setiap saat. Sungai Kidron lebih seperti anak sungai, yang mengalirkan air ketika ada hujan. Sungai ini sendiri menjadi pembatas antara bagian timur kota Yerusalem dengan Bukit Zaitun atau yang biasa disebut Taman Getsmani.

Saya tetap melangkah mengikuti mereka. Degup jantung saya berasa semakin cepat dan kencang. Jarak saya dengan mereka memang cukup dekat. Saya bersyukur dapat mengatur ritmenya. Suasana taman yang banyak ditumbuhi tanaman zaitun itu memang sepi. Kondisi seperti itu memungkinkan saya untuk menangkap apa yang mereka bicarakan.

***

Yesus masuk ke tempat yang tepat untuk menyendiri, hening dan berdoa. “Duduklah di sini, sementara Aku berdoa,” kata Yesus kepada para pengikut-Nya. Diluar dugaan, saya melihat tiga orang dari antara sebelas pengikut itu masuk ke dalam taman.

Saya merasa cukup terlatih sebagai seorang penjaga malam. Karena itu, saya menggunakan tehnik-teknik khusus, minimal keberadaan saya tidak diketahui oleh orang yang sedang saya amati atau perhatikan. Keterampilan seperti itu sangat berperan ketika saya, seperti malam ini, menguntit dan akhirnya mengawasi yesus dan para pengikut-Nya.

Saya kian menajamkan pendengaran dan penglihatan saya. Laksana mata burung hantu, saya dapat menggunakan indera mata untuk melihat gerakan pada situasi temaram dan tak banyak sinar cahaya. Seperti kuping kelelawar, saya mampu memaksimalkan telinga saya untuk mendengar percakapan antar mereka.

***

Saya menyaksikan, Yesus maju sedikit. Ia merebahkan diri ke tanah dan berdoa. Ia sempat juga berkata, “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” Saya tak begitu memahami maksud ucapan Yesus. Setahu saya, Yesus tak begitu jenak untuk diam dan berdoa. Apa yang dialami Yesus justru membelalakkan mata saya, menyingkirkan rasa kantuk yang menyergap dan siap melelapkan saya seperti para pengikut-Nya.

Saya melihat Yesus beranjak dari posisi doa dan mencoba melihat para pengikut-Nya. Yesus beberapa kali melakukan seperti itu, dan ia selalu menemukan para murid-Nya sedang tertidur pulas. Saya iba melihat peristiwa di depan mata. Tak ada yang dapat saya lakukan selain melihat Yesus yang kembali berlutut dan berdoa.

***

Yesus khusyuk dalam doa. Sementara itu, saya berjuang membuka kelopak mata supaya tetap terbuka. Rasa kantuk saya kian memuncak. Rasanya baru terpejam, dan tiba-tiba suasana Taman Getsmani yang hening dan tenang berubah gaduh dan mencekam. Saya melihat seseorang masuk ke dalam taman. Tampaknya, ia menjadi semacam guide yang membawa sepasukan prajurit. Saya sempat bergidik dan berpikir hendak melarikan diri. Kepalang basah!

Taman Getsmani gempar. Saya melihat ratusan prajurit Romawi datang dan berniat menangkap Yesus, orang Nazaret itu. Saya menduga jumlah mereka kurang lebih 600 orang atau sepersepuluh legion Romawi. Sulit dibayangkan, sosok Yesus yang sedang berdoa dan hanya disertai para pengikut-Nya yang sedang tertidur disergap sekian ratus pasukan bersenjata lengkap. Gambaran saya tentang Yesus kian lengkap. Ia memang pribadi hebat dan dianggap mengancam para tokoh agama dan pemerintah pax Romana!

***

Cahayapun bersinar menerangi Taman Getsmani. Selain membawa senjata lengkap, gerombolan orang yang menangkap yesus juga menyalakan api pada obor dan lentera. Suasana gelap berubah benderang. Satu hal ironi menyeruak di depan saya.

Yesus ditangkap layaknya pesakitan. Kesebelas pengikut-Nya lari tunggang langgang. Kini, Ia berhadapan dengan para musuh-Nya. Sendirian. Sosok guide yang masuk lebih dahulu ke taman, setelah mencium Yesus pun tak berfungsi apa-apa. Ia tak mampu membalas tatapan Yesus yang mengarah kepadanya. Ia  berdiri tak berperan lagi. Iblis yang merasuk di dalam dirinya tak punya kuasa saat berada di depan Yesus.  Ia enggan berbalik mengikuti dan kembali kepada-Nya. Ia memilih menyeberang dan memihak pada pasukan yang menangkap Yesus dan membawa serta mengajukan-Nya pada pengadilan massa.

***

Ia, orang yang menggadaikan Yesus demi harta, bernama Yudas. Yudas pada akhirnya lari entah ke mana. Saya tak melihatnya lagi ketika Yesus mulai digelandang para pasukan. Dari tempat persembunyian, saya tertunduk lesu dan miris melihat pergulatan Yesus dan penangkapan atas diri-Nya.

Sekelabat terpampang di depan saya, wajah amarah dan geram majikan saya lantaran saya meninggalkan toko kelontong dan tak menjaga keamanannya. Kesadaran saya lebih mengemuka untuk mengikuti perjalanan Yesus selanjutnya. Via dolorosa!***

catatan: foto diambil dari https://id.wikibooks.org/

CB Ismulyadi

Coachwriter, Editor Lepas, Penulis Artikel, Resensi, Jurnal dan Buku, ASN. Bergabung dalam Komunitas Sumber Daya Rasuli #Jogja, ISKA DIY. Saat ini menjadi pendamping penulisan karya ilmiah para guru dan pengawas Pendidikan Agama Katolik Kemenag DIY.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *