Ibadat Jumat Agung: Yesus Mengajari Kita untuk memanggul Salib Kehidupan

KOMSOS-GMMK. Keheningan mengawali ibadat Jumat Agung di Gereja Maria Marganingsih Kalasan. Ibadat yang dimulai pukul 17.00 dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. Untuk mengenang Yesus yang telah wafat di kayu salib umat datang dengan pakaian bernuansa gelap. Galih, Christy, Reni, dan Endra bertugas sebagai petugas pasio yang membacakan Kisah Sengsara dan Wafat Yesus. Sedangkan Vian bertugas sebagai lektor. Tidak ada alunan musik yang terdengar pada saat Ibadat Jumat Agung, semua berjalan dengan suasana sunyi dan hening.

Dalam khotbah singkatnya Romo Dadang yang berasal dari Lingkungan Tegalgondo, Paroki Delanggu ini menyampaikan tiga poin penting. Poin yang pertama adalah “Lunas” artinya manusia berhutang kepada Allah dalam bentuk dosa dan Kristus yang melunasi hutang manusia dengan cara kematian-Nya. Kemudian yang kedua adalah “Sanggup” yang berarti dalam kehidupan kita harus sanggup memanggul salib masing-masing. Romo Dadang juga menegaskan bahwa dengan memandang salib Yesus kita diingatkan untuk jangan lelah, jangan capai sebab Kristus sudah mengajari kita utuk memanggul salib kehidupan.

Pada poin yang terakhir yaitu “Berani”, Romo Dadang yang masuk Seminari Menengah  Mertoyudan pada tahun 1990 ini membuka dengan pertanyaan “Petrus menyangkal Yesus tiga kali, apakah selama satu tahun terakhir kita sudah menyangkal Yesus lebih dari tiga kali?” Menyangkal Yesus dalam hidup kita sehari-hari contohnya bisa berupa rasa takut mengakui sebagai pengikut Kristus, takut membawa salib, dan takut memasang salib. Romo mengajak umat untuk lebih berani mengakui Yesus dalam kehidupan sehari-hari.

Pada tahun ini ibadat Jumat Agung tidak diadakan perarakan salib karena masih dalam masa pandemi. Sehingga untuk penghormatan salib hanya diadakan di altar dan romo membuka ikatan kain satu persatu sebanyak tiga kali. Penciuman salib umat juga ditiadakan. Sebagai gantinya, umat membawa salib masing-masing dari rumah dan diberkati oleh romo. Walaupun dengan perayaan yang sederhana, namun umat tetap dapat merenungkan bahwa wafat Kristus adalah untuk melunasi hutang-hutang dosa manusia.

Catatan: Liputan oleh Dorothea Devina Krismayanti (vina), foto oleh Gus Nanang  

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *