Ibadat Jumat Agung: Sanggup memikul salib menuju Golgota kita masing-masing

KOMSOS-GMMK. Pada hari Jumat tanggal 2 April 2021 umat dari wilayah Theodosius Cupuwatu, Agnes kebonan, Sang Timur Jebresan, dan Don Bosco Teguhan terlihat mulai berdatangan ke Gereja Maria Marganingsih Kalasan untuk mengikuti ibadat Jumat Agung. Setelah lolos proses screening suhu, umat dengan tertib mengantri untuk mencuci tangan di tempat yang telah disediakan panitia Gereja dengan tetap menjaga jarak. Setelah mendaftarkan diri di meja registrasi umat yang sudah mendapatkan karcis nomor kursi beranjak untuk mencari tempat duduk. Proses ini sangat penting untuk peribadatan di masa pandemi, guna memudahkan satgas untuk tracing bila terjadi kasus covid-19.

Saat ibadat dimulai pukul 15.00, ada suasana yang berbeda dari biasanya yaitu nyanyian tanpa alunan musik, altar yang kosong, tanpa salib, lilin ataupun kain altar, juga tabernakel terbuka lebar, lampu yang menandakan kehadiran Tuhan juga tidak menyala. Jumat Agung adalah hari ketika kita memperingati wafat Kristus. Pada hari itu seluruh umat Katolik diwajibkan melakukan pantang atau puasa. Hal lain lagi yang perlu diketahui adalah bahwa perayaan Jumat Agung berupa ibadat, bukan Perayaan Ekaristi. Pada hari Jumat Agung, tidak ada ritual konsekrasi atau doa syukur agung yang biasa dilakukan Imam.

Ibadat Jumat agung dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan Pr dan berlangsung amat khusuk. Seluruh umat mengikuti ibadat dengan khidmat, ditambah lagi dengan penjiwaan yang mendalam dari Galih, Christy, Reni dan Endra saat bertugas passio. Selama tiga minggu terakhir ini mereka berlatih dua kali dalam seminggu, selebihnya mereka berlatih secara pribadi di rumah. Ketika diwawancari KOMSOS-GMMK, Galih menyebutkan bahwa walaupun dalam passio Jumat Agung, dia merasa dirinya tidak pantas untuk memerankan Yesus, namun ia mencoba untuk bertugas sebaik-baiknya karena mendapakan kepercayaan dari teman-teman dari tim passio untuk memerankan Yesus.

 Banyak umat yang mengapresiasi passio Jumat Agung mengingat tahun lalu umat tidak bisa mengikuti perayaan pekan suci di Gereja.

“Hari ini saya sangat terharu, sangat merasakan paskah yang sesungguhnya,” ujar Felix Gunadi yang rajin mengikuti misa offline walau terserang stroke sejak 2017. Ada juga yang merinding saat mendengar passio di ibadat Jumat agung tahun ini.

“Saya sampai merinding mendengar passio kali ini,” ujar Supriyani Wulandari.

“Ia ditikam karena kejahatan kita”

Dalam khotbah Ibadat Jumat agung Rm Dadang menyampaikan tiga hal kepada umat yang hadir. Pertama, ”Lunas”. Yesus melunasi hutang manusia yaitu dosa dengan kematianNya di kayu salib. Lalu yang kedua “Sanggup”. Hari ini kita diajak untuk mengatakan “sanggup” memikul salib menuju Golgota kita masing-masing. Romo Dadang juga mengingatkan jika kita lelah, jika kita tidak kuat dalam memikul salib kita, maka pandangah salib itu, karena di situlah puncak keselamatan kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus. Dan terakhir “Berani”. Apakah kita berani mengakui sebagai pengikut Kristus dimana pun kita berada karena kita sadar sepanjang hidup kita telah banyak menyangkal Kristus. Di akhir khotbahnya Rm Dadang mengajak umatnya untuk merenungkan sudah berapa kali kita menyangkal Yesus.

Mari kita terus belajar menjadi pengikut Kristus yang setia.

Catatan: Liputan oleh Donald, foto oleh Nanang

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *