Jumat Agung : Yesus telah memenangkan saya!

Perayaan ibadah Jumat Agung di Gereja Katolik Maria Marganingsih, Kalasan berlangsung dengan khidmat pada Jumat (2/4) siang pukul 13.00 dan merupakan ibadat kedua pada hari yang sama. Perayaan Jumat Agung kali ini merupakan yang pertama kalinya digelar secara tata muka dalam masa pandemi Covid-19.

Pada ibadah siang ini khusus diperuntukkan untuk umat Wilayah St Maria Kalasan Barat dan Wilayah St Agatha. Umat yang hadir diwajibkan untuk mengenakan tanda pengenal yang sebelumnya telah lebih dulu didaftarkan melalui masing-masing lingkungan. Saat memasuki area dalam gereja, umat diwajibkan mengenakan kartu tanda pengenal, mengecek suhu terlebih dahulu dan mencuci tangan serta registrasi berdasarkan nama lingkungan untuk mendapatkan nomor kursi.

Sementara, pengamanan di area sekitar gereja juga tampak diperketat. Petugas liturgi bersama petugas keamanan yang dibantu beberapa aparat polisi dan beberapa ormas tampak bersiaga untuk memberikan suasana aman bagi umat.

Pada perayaan Jumat Agung kali ini, Gereja Maria Marganingsih Kalasan mengambil tema Berani Bangkit Bersama Kristus untuk Bertemu dan Berbuah. Tema itu merupakan turunan yang diambil dari tema besar yang diusung oleh Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Ibadat Jumat Agung kali dipimpin oleh Romo AR. Yuwono Suwondo Pr, berlangsung khidmat. Suasana sakral semakin bertambah ketika Kisah Sengsara Tuhan Yesus Kristus (pasio) dibawakan dengan penuh penghayatan oleh Aris, Asti, Puspa, Edgar.

Pemandangan berbeda tampak pada ibadah kali ini, selain tidak ada iringan musik selama ibadah juga saat memasuki gereja tampak umat membawa salib masing-masing dari rumah dan kemudian ditempatkan di bangku tempat mereka duduk. Dan di masa pandemi ini prosesi mencium salib suci juga ditiadakan namun ini sama sekali tidak mengurangi kekusyukan umat selama ibadat berlangsung.

Dalam homili singkatnya Romo AR. Yuwono Suwondo Pr menyampaikan bahwa Jumat Agung merupakan induk dari segala perayaan sabda sehingga dalam ibadat Jumat Agung ini, kita mendengarkan sabda yang begitu banyak dan panjang karena Jumat Agung berfokus pada sabda Allah.

Romo AR. Yuwono Suwondo Pr

Romo yang merupakan Vikep Yogyakata Barat menambahkan bahwa proses selama pekan suci ini bukan merupakan sebuah layatan, bukan sebuah kesedihan tapi sebagai ungkapan syukur karena kita diikutkan pada jalan Tuhan.

Ada tiga hal yang menjadi inti sabda Allah yang disampaikan pada Jumat Agung.  Pertama, Tuhanlah yang mengambil inisiatif untuk keselamatan umatNya. Dia yang menciptakan kita, Dia pula yang bertanggungjawab akan keselamatan kita dengan kematianNya di kayu salib. Kedua, kita juga diajak untuk menjadi umat yang penuh inisiatif dan kreatif, tidak manut pada situasi terlebih pada masa pendemi ini. Pada masa ini menjadi ajang kita untuk berefleksi yakni apa yang bisa saya buat. Ketiga, Yesus rela ‘rekoso’ demi kebaikan kita semua.

Sama seperti Pilatus, imam-imam kepala dan orang yang hadir saat itu yang justru diadili hati nuraninya oleh Yesus. Saat ini pun hati nurani kita ‘diadili’ oleh Yesus; apakah hati kita sudah mengarah atau berfokus kepada Tuhan atau malah melenceng? Apakah kita mau berkreasi dan inovatif pada masa pandemi ini? Apakah kita mau ‘rekoso’ mau ‘repot’ demi kebaikan bersama? . Tentu dengan berlandaskan salib sebagai tanda kemenangan, tanda kekuatan bukan tanda kekalahan.

Setiap kita melihat salib, kita dapat berkata “Dia telah memenangkan saya! Dia telah membuat hidup saya bermutu dan berkualitas”

Liputan oleh Roshinta dan foto oleh Gus Nanang.

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *