Wejangan Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum 3 Desember 2017 : Tentang Mengapa Pergi Ke Misa Hari Minggu

Dikutip dari http://katekesekatolik.blogspot.co.id/2017/12/wejangan-paus-fransiskus-dalam-audiensi_14.html)

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Membahas rangkaian katekese tentang Misa, hari ini kita bertanya kepada diri kita : Mengapa pergi ke Misa hari Minggu?

Perayaan Ekaristi hari Minggu merupakan pusat kehidupan Gereja (bdk. Katekismus Gereja Katolik, no. 2177). Kita umat kristiani pergi ke Misa pada hari Minggu untuk berjumpa Tuhan yang bangkit, atau, lebih baik, membiarkan diri kita dijumpai oleh-Nya, mendengarkan sabda-Nya, bersantap di meja-Nya, dan dengan demikian menjadi Gereja, yaitu, Tubuh Mistik-Nya yang hidup dalam dunia saat ini.

Sejak kali pertama, dipahami oleh murid-murid Yesus, barangsiapa merayakan Ekaristi berjumpa Tuhan pada hari minggu yang disebut “hari pertama minggu itu” oleh orang-orang Yahudi dan “hari matahari” oleh orang-orang Romawi, karena pada hari itu Yesus bangkit dari antara orang mati dan Ia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, berbicara dengan mereka, bersantap bersama mereka, memberi mereka Roh Kudus (bdk. Mat 28:1; Mrk 16:9,14; Luk 24:1.13; Yoh 20:1.19 ), seperti yang kita dengar dalam Bacaan biblis. Pencurahan agung Roh Kudus juga terjadi pada hari Minggu, lima puluh hari setelah kebangkitan Yesus. Karena alasan-alasan ini, hari Minggu adalah hari yang kudus bagi kita, dikuduskan oleh perayaan Ekaristi, kehadiran Tuhan yang hidup di antara kita dan untuk kita. Oleh karena itu, Misalah yang menjadikan hari Minggu kristiani! Hari Minggu kristiani berkisar pada Misa. Bagi orang kristiani, hari Minggu macam apakah yang tidak memiliki perjumpaan dengan Tuhan?

Sayangnya, ada jemaat-jemaat kristiani yang tidak dapat menikmati Misa setiap hari Minggu; tetapi, pada hari yang kudus ini, mereka juga dipanggil untuk berhimpun kembali dengan berdoa dalam nama Tuhan, mendengarkan Sabda Allah dan tetap menghidupkan keinginan akan Ekaristi.

Beberapa masyarakat sekuler telah kehilangan indera kristiani akan hari Minggu yang diterangi oleh Ekaristi. Ini adalah dosa. Dalam konteks ini, perlu menghidupkan kembali kesadaran ini, memulihkan makna perayaan tersebut, makna sukacita jemaat paroki, makna kesetiakawanan, makna istirahat yang memulihkan jiwa dan tubuh (bdk. Katekismus Gereja Katolik, no. 2177-2188). Ekaristi adalah guru dari semua nilai ini, hari Minggu demi hari Minggu.

Oleh karena itu, Konsili Vatikan II ingin menegaskan bahwa “Hari Minggu adalah hari perayaan yang sudah ada sejak permulaan yang harus ditawarkan dan ditanamkan dalam kesalehan umat beriman, sehingga hari Minggu juga menjadi hari sukacita dan hari bebas dari kerja” (Konstitusi Sacrosanctum Concilium, 106).

Bebas dari kerja pada hari Minggu tidak ada dalam abad-abad awal : ini adalah sumbangsih khusus dari kekristenan. Dengan tradisi biblis, orang-orang Yahudi beristirahat pada hari Sabtu, sementara dalam masyarakat Romawi hari bebas dari kerja budak tidak dapat diramalkan. Indera hidup kristiani sebagai anak-anak dan bukan sebagai para budaklah, dijiwai oleh Ekaristi, yang menjadikan hari Minggu – hampir-hampir bersifat sejagat – hari istirahat.

Tanpa Kristus kita dikutuk untuk dikuasai oleh kepenatan setiap hari, dengan keasyikan dan ketakutan akan hari esoknya. Perjumpaan hari Minggu dengan Tuhan memberi kita kekuatan untuk menjalani hari ini dengan kepercayaan dan keberanian dan terus berharap. Inilah sebabnya mengapa kita umat kristiani pergi untuk berjumpa Tuhan pada hari Minggu dalam perayaan Ekaristi.

Persekutuan Ekaristi dengan Yesus, yang bangkit dan hidup selama-lamanya, mengantisipasi hari Minggu tanpa matahari terbenam, ketika tidak akan ada lagi kepenatan, atau penderitaan, atau perkabungan, atau air mata, tetapi hanya sukacita hidup sepenuhnya dan selama-lamanya bersama dengan Tuhan. Misa hari Minggu juga berbicara tentang istirahat yang terberkati ini, mengajarkan kita, dalam besutan pekan, mempercayakan diri kita ke tangan Bapa yang ada di surga.

Apa yang bisa kita jawab kepada seseorang yang mengatakan bahwa tidak perlu pergi ke Misa, bahkan pada hari Minggu, karena yang penting adalah hidup dengan baik, mengasihi sesama? Memang benar bahwa mutu kehidupan orang kristiani diukur dari kemampuannya mengasihi, seperti yang dikatakan oleh Yesus : “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:35); tetapi bagaimana kita bisa mengamalkan Injil tanpa menarik energi yang diperlukan untuk melakukannya, hari Minggu demi hari Minggu, dari sumber Ekaristi yang tak habis-habisnya? Kita tidak pergi ke Misa untuk memberikan sesuatu kepada Allah, tetapi untuk menerima dari Dia apa yang benar-benar kita butuhkan. Doa Gereja mengingatkan kita akan hal ini, yang ditujukan kepada Allah demikian : “Engkau tidak membutuhkan pujian kami, tetapi dengan karunia kasih-Mu Engkau memanggil kami untuk mengucap syukur kepada-Mu; madah berkat kami tidak memperbesar keagungan-Mu, tetapi anugerahkanlah kepada kami rahmat yang menyelamatkan kami” Missale Romawi, Prefasi Biasa IV).

Sebagai penutup, mengapa pergi ke Misa pada hari Minggu? Tidaklah cukup menjawab bahwa itu adalah ajaran Gereja; hal ini membantu mempertahankan nilainya, tetapi tidak cukup dengan sendirinya. Kita umat kristiani perlu mengambil bagian dalam Misa hari Minggu karena hanya dengan rahmat Yesus, dengan kehadiran-Nya yang hidup di dalam diri kita dan di antara kita, kita dapat mengamalkan perintah-Nya, dan dengan demikian menjadi saksi-saksi-Nya yang handal.

[Sambutan dalam bahasa Italia]

Saya senang menerima Suster-suster Serikat Hati Kudus dan Suster-Suster Misionaris Serikat Maria. Semoga peziarahan ke makam para Rasul menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam kasih Allah, sehingga komunitas-komunitas kalian menjadi tempat-tempat yang di dalamnya orang mengalami persekutuan dan perutusan. Saya menyapa paroki-paroki, institusi-institusi sekolah, lembaga-lembaga dan kelompok-kelompok, khususnya Institut Internasional Jacques Maritain.

Akhirnya, sebuah pikiran tertuju ke orang-orang muda, orang-orang sakit dan para pengantin baru. Hari ini liturgi memperingati Santa Lusia, Perawan dan Martir : orang-orang muda terkasih, renungkanlah keagungan kasih Yesus, yang lahir dan wafat untuk kita; orang-orang sakit terkasih, terimalah penderitaan kalian dengan keberanian untuk pertobatan orang-orang berdosa; dan kalian, para pengantin baru yang terkasih, beri lebih banyak ruang untuk berdoa, terutama dalam Masa Adven ini, sehingga kehidupan kalian menjadi jalan kesempurnaan kristiani.

[Sambutan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

Saudara dan saudari terkasih : katekese berkelanjutan kita tentang Ekaristi hari ini berpusat pada pentingnya Misa hari Minggu. Sebagai umat kristiani, kita merayakan Ekaristi untuk berjumpa Tuhan, mendengarkan sabda-Nya, bersantap di meja-Nya dan, dengan rahmat-Nya menggenapi perutusan kita di dunia sebagai anggota-anggota Gereja Tubuh Mistik-Nya. Seperti hari kebangkitan dan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, hari Minggu adalah terutama hari suci umat kristiani. Bagaimana kita bisa melewatkan hari ini tanpa berjumpa Tuhan? Sayangnya, di banyak masyarakat sekuler, kita telah kehilangan indera hari Minggu. Konsili Vatikan II meminta kita untuk merayakan Hari Tuhan sebagai hari sukacita dan istirahat dari kerja keras, tepatnya sebagai tanda martabat kita sebagai anak-anak Allah. Setiap hari Minggu dimaksudkan untuk menjadi pendahuluan kebahagiaan dan istirahat kekal yang kepadanya kita dipanggil dan kita ikut serta, bahkan sekarang, dalam Komuni Kudus. Pada akhirnya, kita pergi ke Misa bukan untuk memberikan sesuatu kepada Allah, tetapi menerima dari-Nya rahmat dan kekuatan untuk tetap setia kepada sabda-Nya, mengikuti perintah-perintah-Nya dan, melalui kehadiran-Nya yang hidup di dalam diri kita, menjadi saksi-saksi kebaikan dan kasih-Nya di hadapan dunia.

Saya dengan senang hati menyambut para peserta dalam pertemuan Forum Organisasi-organisasi Nonpemerintah yang Diilhami Kekatolikan tahun 2017 di Roma selama hari-hari ini. Saya mengungkapkan penghargaan saya yang mendalam atas usaha-usaha kalian membawa terang Injil ke berbagai penjuru dunia kita, untuk membela martabat manusia, mempromosikan pengembangan bangsa-bangsa secara menyeluruh, dan memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani dari begitu banyak anggota keluarga manusiawi kita. Saya mendorong kalian untuk selalu berkarya dalam semangat persekutuan dan kerja sama dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat Katolik lainnya dan dengan perwakilan Takhta Suci, sebagai ungkapan komitmen Gereja untuk membangun dunia yang lebih adil dan bersaudara. Dengan keinginan baik penuh doa agar hari-hari permenungan dan diskusi ini akan terbukti bermanfaat bagi karya kalian, dengan tulus saya menyampaikan kepada kalian semua berkat apostolik saya. Saya juga menyambut para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok-kelompok dari Australia, Indonesia, India, Jepang dan Amerika Serikat. Atas kalian dan keluarga-keluarga kalian, saya memanjatkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. (Peter Suriadi – Bogor, 14 Desember 2017)

Menanggapi wejangan ini Romo Robertus Budiharyono Pr memberikan penjelasan praktis demikian.

Hari Minggu mempunyai beberapa makna bagi kita orang beriman Katolik dan disebut dengan beberapa istilah.
1. Dies Dominus=harinya Tuhan. Pada hari Minggu Yesus bangkit, dan oleh karena kebangkitan-Nya Yesus adalah Kristus, Tuhan, Mesias yang terurapi. KebangkitanNya menjadi puncak dari semua karya penebusanNya. Ekaristi adalah perayaan syukur atas semua karya Tuhan, mengenang karya agung Tuhan, yaitu karya keselamatan yang terlaksana dalam dan melalui Yesus Kristus.
2. Dies Ecclesia=harinya Gereja.
Hari Minggu adalah hari untuk meng-ada-kan Gereja. Gereja ada secara nyata saat merayakan Ekaristi. Dengan merayakan Ekaristi Gereja seketika ada, kumpulan orang orang yang percaya pada Kristus,

3.DiesDomestica=harinya keluarga. Hari Minggu adalah hari libur kerja, saat sanak keluarga berkumpil. Hari Minggu adalah waktu dan kesempatan untuk bersama-sama sekeluarga datang ke gereja.

4.Dies Dierum=harinya hari.
Hari Minggu adalah permulaan hari, bukan hari Senin. Yesus bangkit pada hari pertama pekan itu. Perayaan Ekaristi hari minggu menjadi puncak dan sekaligus sumber.

 

Hari minggu adalah harinya Tuhan, harinya Gereja, harinya keluarga dan harinya hari.

 

Catatan:Kiriman tulisan dari Rm Budi

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *