Rintihan Demi Rintihan Sebagai “Makanan” Harian

Pernah suatu kali ada seorang ibu yang senantiasa merintih. Merintih karena pinggangnya sakit, merintih karena kamarnya sumpek, merintih karena makanan tidak merangsang selera, et cetera.

Lebih-lebih ibu itu pernah membaca sebuah kutipan, “I am feeble and utterly crushed; I groan in anguish of heart” – aku kehabisan tenaga dan remuk redam, aku merintih karena degap-degup jantungku (Mzm 38: 9). Dan itu didengar oleh anak, menantu dan cucu. Ia selalu risau, “non curatur, qui curat” – yang selalu risau (justru) tidak mudah sembuh.

Lantas oleh menantunya, ibu itu diajak kunjungan ke panti jompo. Di tempat itu ibu-ibu sepuh itu klèlèran, kamar mereka bau pesing, para karyawan-wati melayani dengan tidak sepenuh hati (mungkin di rumah mereka juga punya beban). Ternyata, Ibu tua ini “lebih beruntung” dibandingkan ibu-ibu yang lain.

Di luar sana banyak orang yang menderita, seperti yang pernah ditulis Plato (427 – 347 seb. M), “Bersikap ramahlah karena setiap orang yang Anda temui sedang menghadapi perjuangan yang berat”.

Senin, 15 Juli 2019
Rm. Markus Marlon

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *