Pentakosta 2019: Tuhan Tetap Mengasihi

Pentakosta merupakan hari ke–50 sejak hari raya paskah sebagai peringatan turunnya Roh Kudus. Hari Raya Pentakosta mengingatkan kita akan turunnya Roh Kudus yag dijanjikan Yesus atas gereja yang masih muda yaitu kepada para rasul Yesus bersama Bunda Maria, yang dengan tekun, sehati dalam doa bersama di satu ruangan di Yerusalem.

Perayaan Hari Raya Pentakosta bertempat di Gereja Ignatius Temanggal Wilayah Kalasan Tengah, dimulai pada Sabtu, 8 Juni 2019 pukul 18:00. Perayaan Hari Raya Pentakosta dipersembahkan oleh Romo Adrianus Maradiyo, Pr. (Vikep DIY) yang didampingi oleh Diakon Yoseph Didik Mardiyanto yang sedang melaksanakan masa diakonatnya kurang lebih selama 3 bulan di Paroki Kalasan dengan tujuan untuk mengenal dan belajar dinamika umat di Paroki, salah satunya Paroki Marganingsih Kalasan.

Romo Maradiyo membuka khotbahnya dengan bertanya kapan Roh Kudus datang ke dalam diri masing-masing bapak-ibu? Di saat dibaptis dan sakramen penguatan. Namun apakah Roh Kudus di saat pembaptisan dan sakramen penguatan sama? Roh Kudus yang tercurah dalam pembaptisan dan penguatan adalah sama, namun yang membedakan adalah fungsinya. Fungsi Roh Kudus dalam sakramen baptis adalah bahwa kita diajak menjadi anak Allah, sedangkan fungsi Roh Kudus dalam sakramen penguatan adalah agar kita menjadi dewasa untuk siap diutus mewartakan kabar sukacita.

Menarik sekali seperti halnya dalam bacaan pertama (Kis 2: 1-11) bahwa Roh Kudus datang dalam rupa lidah-lidah api yang bertebaran. Itulah Roh Kudus pada hari raya pentakosta. Sedang ketika Yesus dibaptis, Roh Kudus hadir dalam rupa burung merpati. Apa perbedaan antara lidah api dengan merpati? Kita diminta untuk merenungkan, ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis ada suara dari surga “Inilah Anak yang Kukasihi. Kepada-Nyalah Aku

berkenan, dengarkanlah Dia”. Merpati menjadi lambang perdamaian, cinta kasih. Maka dalam pembaptisan Yesus, Roh Kudus hadir dalam rupa merpati karena Yesus adalah Putra Allah yang terkasih. Ketika kita dibaptis kita menerima Roh Kudus serta kita menjadi anak Allah yang terkasih.

Sebagai contoh, jika tetangga kita tidak berkenan kepada kita atau orang tua kita tidak suka dengan kita, namun ada suatu hal yang harus diingat bahwa kita yang telah menerima pembaptisan, maka kita tetap menjadi anak Allah yang terkasih. Bagaimanapun kondisi kita, kita tetaplah menjadi anak Allah yang terkasih. Tuhan Yesus tetap mencintai. Ketika hari Pentakosta, yang dijelaskan dalam bacaan Kisah Para Rasul bahwa Roh Kudus hadir dalam rupa lidah api dan topan, kita memohon untuk dapat turut merasakan ketakutan para rasul ketika Yesus wafat. Para rasul takut untuk mewartakan dimana saja. Ketika rasul merasa takut, Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus bagi para rasul untuk menjadi semangat bagi para rasul yang sudah putus asa.

Semoga Hari Pentakosta, Hari turunnya Roh Kudus atas para rasul, mampu menjadi penyemangat kita untuk mewartakan kabar sukacita bagi sesama dimanapun kita berada.

Catatan: Foto dan liputan oleh Monica Aurelia

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

One thought on “Pentakosta 2019: Tuhan Tetap Mengasihi

  1. Rm Yoseph Didik Mardiyanto Pr.: Pemaknaan atas Motto Tahbisan - Paroki Marganingsih Kalasan 11/07/2019 at 16:25

    […] Pentakosta 2019: Tuhan Tetap Mengasihi […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *