PEMBEKALAN DEWAN INTI PAROKI: ‘GA ADA LOE GA RAME’

KOMSOS-GMMK. Senin 28 Februari 2022, bertepatan dengan libur Isra Miraj, sekitar 64 orang pelayan umat yang tergabung dalam  Dewan Paroki Inti dan ketua wilayah se-paroki Maria Marganingsih Kalasan mengikuti pembekalan di Melcosh Cafe Jl. Kaliurang yang selama ini dikelola oleh Rm Denny Sulistyawan, Pr.

Bernardus Purnama (Sekretaris 1 DPH) dengan rapi memandu jalannya pembekalan dan membuka acara dengan ucapan selamat datang kepada Romo dan peserta yang hadir. Setelah YB Sukartono (Kabid Liturgi) memimpin doa pembuka, para hadirin kemudian diajak untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya yang membuat suasana rintik-rintik pagi itu menjadi lebih khidmat.

Dalam sambutannya, St Sunaryo (Ketua II DPH) mengungkapkan rasa syukurnya karena setelah sekian lama akhirnya Dewan Paroki Inti bisa berkumpul bersama. Acara yang digadang-gadang sejak lama ini tertunda lama karena adanya pandemi, dan berkat Romo Denny dan tim yang mengelola Melcosh Café maka DPI PMMK akhirnya dapat melaksanakan pembekalan dengan segala fasilitas yang disediakan. Diharapkan dengan berkumpulnya semua bidang pelayanan dan semua ketua wilayah dapat membentuk sinergisitas untuk melayani dalam satu keluarga besar Paroki Maria Marganingsih Kalasan.

Dr. Ferdinand Hindiarto Spsi, Msi sedang memberi pembekalan

Pembekalan diisi oleh Dr. Ferdinand Hindiarto Spsi, Msi yang merupakan Rektor Unika Soegiparanata, Semarang. Materi mengusung tema “Membangun Organisasi yang efektif”.  Dalam sesi ini Pak Ferdinand, demikian ia biasa disapa, menjelaskan bagaimana menjadikan gereja sebagai subyek budaya dan mewujudkan gereja tanpa dinding. Bisa dibayangkan bagaimana kita mengembangkan ruang berpikir alternatif dengan mengakomodir kelompok-kelompok berbasis minat/interest ini dapat menjawab tantangan gereja saat ini untuk mengembalikan umat kembali ke gereja yang telah terbiasa dengan ibadah online. Gereja tidak terbatas dalam gedung gereja dan altar saja tetapi sudah masuk ke dalam semua sel-sel kehidupan.

Pria kelahiran Klaten 21 Oktober 1972ini menjelaskan bagaimana umat Katolik sungguh dapat dirasakan kehadirananya dalam masyarakat dalam segala aspek kehidupan baik dalam pengungkapan iman maupun penghayatan iman, dimana dalam pengejawantahannya bisa dalam dua wujud yaitu “nampak tapi tidak terasa atau tidak nampak tapi terasa”. Wujud yang kedua ini selaras dengan konsep menggarami yang diajarkan Yesus sendiri. Setiap orang harus berdampak bagi orang di sekitar kita.Untuk dapat mewujudkan hal di atas, organisasi dewan paroki harus ditata dengan baik agar bisa efektif. Dewan paroki disebut paguyuban sebagai spirit kebatinan tetapi prinsip kerjanya adalah organisasi.

Organisasi yang baik adalah organisasi yang mampu mewujudkan cita-citanya dengan indikator yang jelas melalui manajemen organisasi dan semua anggota harus memahaminya, khususnya manajemen sumber daya manusia yang mestinya menjadi perhatian utama karena menjadi bagian yang paling susah untuk ditangani. Dalam manajemen sumber daya manusia yang paling penting adalah faktor sosial karena dalam organisasi terjadi relasi sosial baik secara vertikal dan horizontal dan saling memberikan makna/memberikan persepsi. Dan dalam pemberian makna bergantung pada kebutuhan, kepentingan dan gap generasi.

Pria yang hobi sepakbola ini dalam pemaparannya menjelaskan relasi sosial sebagai kunci yang mempengaruhi efektif atau tidaknya suatu organisasi. Salah satu cara untuk mengatasi gap generasi adalah dengan menggunakan pendekatan asertif bukan dengan komunikasi isyarat/non-verbal.

Faktor-faktor  penyebab tidak efektifnya suatu organisasi meliputi mis-persepsi, mis-komunikasi dan mis-koordinasi yang kemudian berdampak pada timbulnya demotivasi, “ngambek” dan hilang.

Mantan GM PSIS ini lebih lanjut menjelaskan bahwa relasi sosial harus dikelola dan dikembangkan secara terus-menerus karena merupakan keterampilan yang harus dilatih dan tidak bisa berjalan secara alamiah. Jika relasi sosial baik maka akan lebih optimal untuk mencapai tujuan bersama. Langkah awalnya dimulai dengan saling mengenal dan berteman untuk mencapai level pertemanan yang tertinggi yaitu ‘true best friend’ yakni ketika pertemanan sudah sampai pada tingkat “nyek-nyekan” dan tidak tersinggung alias tidak baperan.

Pak Rektor yang suka bercanda ini mengakhiri pemaparannya dengan ajakan untuk melakukan relasi sosial sampai dengan tahap kohesivitas dengan bahasa gaulnya ‘Ga ada loe, ga rame’ maka sinergi dan kerjasama dalam dewan paroki inti akan tercapai. Artinya jika ada seseorang dari tim tidak hadir maka anggota lainnya akan merasa kehilangan. Hal ini bisa diwujudkan jika dalam tim bisa saling mengenal, saling berteman, dimulai dengan komunikasi yang baik dengan membuang sekat-sekat yang ada. Kuncinya, setiap pribadi harus berani “self-disclosure” artinya mau berproses membuka diri agar orang lain mengetahui apa yang dipikirkan, dirasakan dan diinginkan.

Di akhir sesi pembekalan, ke-64 peserta diminta untuk mencari satu partner yang ingin dikenali lebih dalam yang selama ini belum dikenal untuk mulai membangun relasi sosial yang baik. Empat orang perwakilan memaparkan apa yang diperoleh dari diskusi berdua-dua tersebut.

Rm Antonius Dadang Hermawan, Pr.

Rm Antonius Dadang Hermawan, Pr. (Romo Paroki GMMK) dalam sambutannya mengucapkan terimakasih kepada Universitas Katolik Soegipranata yang telah membuka diri untuk masuk ke paroki-paroki melalui program-program pendampingan. Apresiasi juga diberikan untuk program lain seperti pemberian beasiswa kepada 5 umat paroki yang aktif di paroki dan mempunyai prestasi sekolah atau olahraga. Romo Dadang juga berharap agar pembekalan yang sudah diberikan bisa menjawab kerinduan Dewan Paroki Inti untuk lebih bisa bersinergi.

Diwawancari KOMSOS-GMMK, Paulus Sriyanto (Kabid Rumah Tangga) menyebutkan bahwa acara pembekalan sungguh luar biasa dan sangat menginspirasi peserta untuk bisa terlibat aktif, jujur dan penuh kasih di masyarakat.

“Presenternya juga bagus, bisa menciptakaan suasana yang menyenangkan sehingga peserta bisa mengikuti pembekalan dengan rileks,” ujar P. Sriyanto.

Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan 2 permainan yang dipandu oleh tim Melcosh yaitu golf dan panahan. Di area yang asri dengan hawa dingin yang menyusup dari celah-celah dedaunan, para anggota dewan inti dan Romo bermain bersama untuk saling mengakrabkan diri dan meningkatkan kerjasama dalam tim dengan penuh sukacita.

Sekitar pukul 14:00 WIB semua proses pembekalan dan pelatihan selesai dan diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin oleh Juanita Agustina Joesoef dan berkat penutup dari Romo Dadang.

Diwawancari KOMSOS-GMMK mengenai kesan terhadap acara pembekalan, Bernardus Purnama menyebutkan bahwa semua peserta sangat antusias mendengarkan pemaparan dari Dr. Ferdinandus Hindiarto.

“Temanya sangat menarik dan pas dengan spirit pelayanan yang sedang dijalani peserta pembekalan, dimana desain niat atau cita-cita menuju tercapainya tujuan sebuah program dikupas menarik dengan contoh yang gamblang dan jelas,” ungkap lelaki yang biasa disapa Pak Pur ini.

Kesan serupa disampaikan Elisabeth Mariani (Ketua Bidang Pewartaan dan Evangelisasi)

“Pembekalannya sangat menginspirasi bagi gerak pelayanan pastoral untuk bisa lebih memahami satu sama lain sehingga ada sinergi yang sehat di dalamnya,” ujar perempuan yang lihai menjadi dirigen koor ini.

Harapan yang lain disampaikan Juanita Agustina Joesoef (Kabid Paguyuban).

“Kalau saya sangat positif ya. Kegiatan seperti ini penting dilakukan berkala.  Ilmu bisa diterapkan ke berbagai tempat bukan hanya di gereja. Dan perlu adanya refreshing sehingga antara sesama pelayan dan pekerja di ladang Tuhan bisa lebih saling mengenal dan lebih dekat sehingga jarak antara pelayan menjadi menipis,” ungkap Juanita sambil tersemyum.

Begitulah acara pembekalan berlangsung dengan sukses tentu dengan harapan semoga Dewan Paroki Inti dapat terus bersinergi dan bekerjasama dengan baik, simultan, dan kompak.

Selamat melayani dengan murah hati.

Liputan oleh Roshinta dan foto oleh Pipit

Roshinta Rambe

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *