Misa untuk Umat Berkebutuhan Khusus

Saat misa berlangsung, seorang perempuan di sudut depan gereja tiba-tiba menjerit, setengah menangis. Sang ibu dengan sabar memapahnya keluar gereja. “Dia selalu menangis bila koor berhenti menyanyi,”ucap si ibu pelan. Rupanya perempuan muda berkebutuhan khusus bernama Bhineka ini sangat menikmati dan menghayati setiap nyanyian dari koor. Itulah salah satu pemandangan mengharukan yang terjadi pada perayaan misa untuk umat berkebutuhan khusus pada Minggu, 29 Desember 2019 di gereja Maria Marganingsih Kalasan.

KOMSOS-GMMK. Misa pada pukul 08:00 itu dipimpin oleh Rm Jonathan Billie Cahyo Adi, Pr. Perayaan misa ini dilaksanakan masih dalam rangkaian perayaan natal dengan wilayah Agatha Kalasan Timur sebagai panitianya.

Di awal kotbahnya, Rm. Billie mengajukan dua pertanyaan. Pertanyaan pertama, apa yang membuat Anda merasa bahagia berkeluarga? Pertanyaan kedua, apa yang membuat Anda sedih dalam berkeluarga? Sangat beragam jawaban dari umat yang hadir atas pertanyaan dari Rm Billie. Pertanyaan yang sangat sederhana namun menyimpan makna dan pelajaran mendalam dalam setiap perjalanan hidup seluruh anggota dalam sebuah keluarga.

Ketika kita dilahirkan oleh ibu, kita tidak dapat meminta untuk bisa dilahirkan dalam keadaan sehat, dan juga kita tidak dapat meminta untuk bisa terlahir normal. Juga dalam proses kehidupan sejak masih bayi sampai kita menjadi dewasa juga tidak luput dari yang namanya sakit. Sakit adalah bagian dari hidup. Semua orang tidak ingin sakit karena banyak orang beranggapan jatuh sakit itu musibah atau jatuh sakit itu adalah kesalahan dalam menata pola hidup.

Seperti halnya yang dialami oleh Devina Candra umat dari Paroki Administratif Macanan yang turut hadir pada misa ini. Menurut orangtuanya, Devina menderita tuna daksa. Devina tidak bisa mengikuti misa layaknya umat lainnya yang bisa berjalan sendiri untuk mencari tempat duduk di dalam gereja, atau mengikuti ekaristi secara normal. Devina harus menjalani hari-harinya dengan alat bantu guna menunjang mobilitasnya.

“Ia mengalami penyakit kelumpuhan otak atau yang di dunia medis biasa disebut cerebral palsy. Penyakit ini menyebabkan pertumbuhan motoriknya melemah,” tutur Robertus Rudi, orangtua dari Devina. Devina sudah menerima sakramen krisma secara inisiasi.

Mada, perempuan muslim asal Bantul, penterjemah bahasa bagi Umat Katolik tuna runggu.

Tersenyum

Memang tidak mudah untuk merawat orang sakit. Diperlukan kesabaran, kerendahan hati yang luar biasa. Itulah yang dilakukan Robertus Rudi dalam keseharian merawat anaknya yang menderita sakit. Karena apabila tidak bisa menjaga kesabaran maka emosi akan muncul dalam pelayanan terhadap orang sakit yang mungkin akan kita sesali sesudahnya. Hal inipun juga diamini oleh Robertus Rudi. Lalu bagaimana kita bisa mengendalikan emosi itu? Kunci keberhasilannya adalah menaruh sukacita dalam setiap tindakan kita dalam merawat orang sakit entah itu anggota keluarga kita sendiri ataupun orang lain.

Hal lain yang tak kalah penting adalah tersenyum. Bersukacita dalam setiap tindakan adalah sesuatu yang baik namun tidak terlihat secara langsung oleh orang yang sedang kita rawat. Namun apabila kita sering menebar senyuman maka hidup kita akan menjadi lebih baik dan orang yang sedang kita rawat juga mengetahui bahwa dia sedang dicintai sebagaimana sari-sari homili yang disampaikan Rm Billie.

Romo Billie menjelaskan dalam khotbahnya bahwa sukacita menutupi segala kesedihan, menutupi segala kerinduan yang pernah ada. Itulah yang dirasakan Rm Billie ketika pada suatu hari membaptis umat yang berkebutuhan khusus.

Gereja-gereja di Keuskupan Agung Semarang begitu memperhatikan umat yang berkebutuhan khusus. Gereja mengucapkan terimakasih kepada semua yang sudah menjadi bagian dalam sukacita ini dan berharap semoga Gereja semakin disadarkan untuk terus ambil bagian dalam sukacita ini.

Secara pribadi Rm Billie juga bersyukur atas pengalaman dalam perjalanan imamatnya yang bisa ambil bagian dalam pembatisan istimewa dan dari situlah maka keluarga kudus dirayakan. Rm Billie juga mengajak umat untuk bersatu membangun keluarga yang bahagia dan penuh sukacita bersama Kristus.

“Semoga  kita semua dengan aneka macam kelebihan dan kekurangan yang ada semakin menyadari bahwa kita adalah bagian dari keluarga kudus Nazareth. Semoga kita juga semakin menyadari agar kita bisa hidup sebagai sahabat bagi semua orang, bukan hanya sebatas kata-kata namun juga diwujudkan dalam kehidupan kekatolikan kita,” ajak Rm Billie di akhir kotbahnya.

Maka marilah kita berhenti berpikir bahwa sakit itu adalah penghancur cita-cita kita atau penyakit itu adalah suatu kutukan yang mengerikan dan harus segera disingkirkan segera supaya kita bisa kembali hidup normal. Apabila kita berpikir seperti itu maka kita telah melewatkan makna besar dari penyakit itu yaitu “Penyakit hadir untuk menjadi guru bagi  kita”.Kita memang tidak sempurna, tetapi percayalah ada Allah yang selalu menopang hidup kita.

Catatan: Liputan oleh Mas Donald, foto-foto oleh Pipit dan Monica

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *