Merawat Jenasah dengan Penuh Kasih

KOMSOS-GMMK. Pada hari Minggu, 19 Maret 2023, bertempat di pendopo gereja Maria Marganingsih Kalasan diselenggarakan acara pelatihan merawat jenasah. Pelatihan ini diselenggarakan oleh bidang kemasyarakatan yang dipimpin oleh Elisabeth Siwi Walyani dan secara khusus didukung oleh tim pelayanan prangukti loyo. Pelatihan ini ditujukan untuk umat di wilayah timur yang mencakup wilayah Manisrenggo, Petrus Damianus, Johanes Paulus 2, Agatha dan Berbah. Sebanyak 104 orang hadir dalam pelatihan dari 107 pendaftar. Dilihat dari jumlah peserta kegiatan pelatihan yang dipandu dengan apik oleh Bernadus Purnama ini terbilang sukses.

Bernadus Purnama

“Jumlah peserta yang hadir ini mengindikasikan bahwa semangat pelayanan murah hati di wilayah dan lingkungan mendapat sambutan yang baik dari bapak-ibu,” ujar lelaki yang hobi bermain musik ini.

Diwawancari KOMSOS-GMMK di awal acara pelatihan, Elisabeth Siwi Walyani selaku ketua bidang kemasyarakatan menjelaskan bahwa pelatihan ini sebenarnya dimaksudkan untuk memenuhi permintaan umat lingkungan. Selama ini masalah perawatan jenasah menjadi keprihatinan bersama karena umat belum bisa secara mandiri merawat jenasah sehingga perawatan jenasah seringkali dilakukan oleh tim dari paroki atau dari instansi tertentu. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan umat bisa secara mandiri merawat jenasah di lingkungan masing-masing.

Elisabeth Siwi Walyani

“Bila umat bisa secara mandiri merawat jenasah di lingkungannya maka secara operasioanl akan lebih mudah dan beaya yang dikeluarkan juga jauh lebih murah daripada bila diserahkan ke orang lain atau instansi tertentu,” jelas perempuan yang lebih akrab dipanggil Bu Siwi ini.

Pelatihan perawatan jenasah diberikan oleh Titik Surani yang pernah bertugas di kamar jenasah RS Panti Rapih. Sesudah purna tugas, perempuan yang sering dipanggil Bu Titik ini banyak memberikan pelatihan perawatan jenasah. Pelatihan kali ini berisi teori singkat dan praktek langsung sehingga peserta bisa secara langsung melihat  bagaimana langkah-langkah dan sikap yang benar ketika merawat jenasah.

Sekali lagi melalui pelatihan ini, Elisabeth Siwi Walyani berharap bahwa pengurus pangrukti loyo di lingkungan dan wilayah bisa memberikan pelayanan kepada umatnya sendiri. Dengan demikian pelayanan murah hati tidak hanya dari paroki ke umat, namun juga dari wilayah dan lingkungan ke umat mereka sendiri.

Siwi Walyani juga menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan pelatihan kedua, sesudah pelatihan pertama yang meliputi wilayah Barat yang dilaksanakan di gereka Temanggal beberapa waktu lalu.

Ketika diberi kesempatan memberikan sambutan Elisabeth Siwi Walyani juga memperkenalkan tim prangukti loyo paroki Maria Marganingsih Kalasan yakni Yudha Birawa, Maria Goretti Dianasari, dan Fransisca Trika. Mereka bertiga inilah yang selalu hadir ketika ada umat yang berduka di wilayah paroki.

“Menjadi tim prangukti loyo tidaklah mudah. Tetapi ketika panjenengan “rawuh” di sini dan berlatih bersama, saya yakin bahwa Tuhan sendirilah yang akan membimbing dan menguatkan bapak-ibu semuanya untuk melayani mereka yang sedang berduka,” ungkap Siwi Walyani,

Titik Surani

Sementara itu di awal sesi pelatihan, Titik Surani mengatakan bahwa kita harus bersemangat dengan hati yang gembira dalam memberikan pelayanan.  Ia menyebutkan bahwa orang yang bertugas merawat jenasah memerlukan kerelaan dan keterbukaan hati serta kesiapan mental yang cukup  agar tindakan yang dilakukan tepat dan tidak sembrono. Ketika ada yang masih merasa takut dengan jenasah, pada saat kita melayat sentuhlah jenasah tersebut sambil mendoakan. Bu Titik juga menyebutkan bahwa sebaiknya perawatan jenasah sebaiknya dilakukan lebih dari satu orang.

Kehadiran kita di rumah duka sebenarnya tidak hanya untuk merawat jenasah, namun kita juga bisa ambil bagian dalam membantu hal-hal lain di luar perawatan jenasah. Ketika kita memberikan ucapan duka kepada keluarga, kita tidak perlu memberikan terlalu banyak nasehat kepada keluarga yang berduka karena mereka yang berduka belum siap untuk mendengarkan banyak nasehat. Mereka mungkin masih kaget dengan kejadian duka tersebut.

“Berikan waktu yang cukup kepada keluarga untuk mengungkapkan rasa dukanya di dekat jenasah,” ujar pemateri.

Sesudah kita mengamati keadaan dan ada keluarga yang sudah bersikap tenang, kita bisa menanyakan kepada dia bagaimana jenasah akan dirawat, misalnya apakah cukup dilap ala perawatan di RS atau digebyur.

“Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, Pr. pernah mengatakan bahwa perawatan jenasah kepada umat dilakukan dengan air dengan bantuan gayung,” jelas Titik Surani.

Titik Surani kemudian menjelaskan secara teknis bagaimana merawat jenasah dengan alat peraga dibantu oleh salah satu tim pelayanan kesehatan. Hal-hal yang dijelaskan meliputi cara memandikan jenasah, cara mengelola dan mengenakan pakaian jenasah, cara merias wajah, cara menata rambut dll.

Wilayah menerima kid perawatan dari panitia

Setelah selesai pelatihan, bidang kemasyarakatan membagikan kit peralatan perawatan kepada masing-masing wilayah yang disambut dengan rasa bahagia dari para peserta.

Kegiatan pelatihan ini mendapatkan perhatian besar dari para peserta dan terbilang sukses dalam membekali peserta dengan tips-tips praktis merawat jenasah dengan tepat dan dengan sikap yang benar.

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *