Membangun Keluarga yang Tangguh

KOMSOS-3 Maret 2021. Bertepatan dengan hari libur perayaan Nyepi, diadakan pembekalan bagi keluarga-keluarga muda Paroki Maria Marganingsih Kalasan. Acara yang dipandu oleh ketua Bidang Paguyuban, Agustina Juanita Joesoef, diikuti oleh 14 pasang suami istri. Kondisi pandemi yang sedang genting menyebabkan beberapa pasang suami istri yang sebelumnya sudah mendaftar terpaksa mengundurkan diri.

Agustina Juanita Joesoef, sedang memandu acara pembekalan

Acara pembekalan dibuka dengan kata sambutan oleh FX. Juarto, selaku koordinator Tim Pelayanan Pastoral Keluarga Paroki.  FX.Juarto menyebutkan bahwa belum ada tim pelayanan pastoral keluarga selama ini di paroki Maria Marganingsih Kalasan, dan kegiatan ini menjadi rintisan baru agar keluarga-keluarga sungguh mendapatkan pendampingan karena diyakini bahwa keluarga semestinya menjadi sendi-sendi utama dalam pengembangan gereja.

Sesi pertama pembekalan diberikan oleh narasumber YH Bintang Nusantara S.Pd M.Hum, yang merupakan dosen Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik (IPPAK) Universitas Sanata Dharma. Sesi pertama ini mengusung tema “Keluargaku adalah surgaku”. Dijelaskan beberapa rujukan alkitabiah dan rujukan ajaran gereja. Disampaikan pula bahwa kegiatan pembekalan ini dilaksanakan pada momen yang pas, yaitu di Tahun Keluarga “Amoris Laetitia” dari 19 Maret 2021 sampai 26 Juni 2022. Tahun 2021 adalah ulang tahun kelima “Amoris Laetitia”, tentang keindahan dan kegembiraan cinta suami-istri dan keluarga. Dalam ensiklik Amoris Laetitia (Sukacita Kasih), Paus Fransiskus memberi perhatian khusus kepada setiap keluarga.

FX. Juarto, (koordinator Tim Pelayanan Pastoral Keluarga Paroki) sedang memberikan sambutan 

Dalam Tahun “Keluarga Amoris Laetitia” ini, saya menuliskan surat ini untuk mengungkapkan kasih sayang dan kedekatan saya yang mendalam kepada kalian semua pada waktu yang sangat istimewa ini. Keluarga senantiasa berada dalam pikiran dan doa saya, namun terlebih lagi selama pandemi, yang telah menguji semua orang, terutama yang paling rentan di antara kita. Situasi dewasa ini telah membuat saya ingin menyertai dengan kerendahan hati, kasih sayang dan keterbukaan setiap pribadi, pasutri dan keluarga dalam segala situasi yang kalian mendapati diri kalian berada di dalamnya. (Paus Fransiskus)

Dijelaskan pula bahwa tahun keluarga menjadi momen untuk revitalisasi keluarga sebagai ecclesia domestica (Gereja rumah tangga). Ungkapan “di rumah saja” di masa pandemi menjadi momentum untuk merefleksikan makna keluarga, rumah, sebagai komunitas kehidupan dan komunitas iman.

YH Bintang Nusantara kemudian menjelaskan pula tentang keluarga sebagai komunitas cinta kasih. Keluarga bukan sekedar kumpulan pribadi-pribadi yang tinggal dalam satu rumah tanpa ikatan (sibuk dengan diri sendiri dalam dunia maya). Keluarga adalah komunitas pertama yang dibentuk dan hidupnya didasarkan pada cinta kasih. Cinta kasih dalam keluarga Kristiani melibatkan Allah, dan didasarkan pada kasih sejati. Hendaknya setiap orang dalam keluarga mengenakan kasih. Dalam Amoris Laetitia, Paus Franskus menghimbau keluarga perlu membangun ikatan kasih sayang yang kokoh di antara sesama anggota keluarga

YH Bintang Nusantara S.Pd M.Hum sedang memberikan presentasi di sesi 1

Di sesi akhir presentasi YH Bintang Nusantara menjelaskan berbagi praktek yang bisa diterapkan dalam keluarga sebagai gereja mini. Keluarga semestinya bisa menampilkan dan mengungkapkan jatidiri Gereja sebagai persekutuan; keluarga menjadi pusat iman yang hidup; keluarga merupakan tempat yang kudus; keluarga mengambil bagian dalam tugas Gereja.

‘Ciptakan jam-jam suci di keluarga Anda yakni dengan berdoa bersama,” ujar Bintang Nusantara.

Gereja adalah keluarga dari keluarga-keluarga, terus-menerus diperkaya oleh kehidupan seluruh Gereja rumah tangga. Gereja merupakan kebaikan bagi keluarga, dan keluarga merupakan kebaikan bagi Gereja. (Paus Fransiskus)

Sementara sesi kedua disampaikan oleh Yulia Wardani, MAN (Master of Art in Nursing). Perempuan yang berprofesi sebagai dosen di STIKes Panti Rapih ini mengambil tema “Internet Addiction, depression and suicide among TEENS” (Adiksi Internet, depresi dan bunuh diri di antara remaja”. Dengan gaya presentasi yang meyakinkan, Yulia Wardana mencoba menyadarkan peserta pembekalan tentang bahaya adiksi internet terutama kepada anak-anak/remaja.

Para peserta pun diminta untuk menandai beberapa  kriteria adiksi internet antara lain; obsesif terhadap sosmed, rasa tidak nyaman muncul saat tidak menggunakan internet (menjadi mudah marah, sedih, dan cemas) atau sering disebut distress responses, membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan hari sebelumnya agar kamu merasa puas saat bermain internet (tolerance), gagal mengurangi atau menghentikan penggunaan internet walaupun sudah mencobanya, tidak ingin lagi untuk melakukan aktivitas lain, misalnya pergi bersama teman, bermain bola atau kegiatan lain yang disukai sebelumnya, selain bermain internet, tetap bermain internet bukan untuk tugas sekolah walaupun mengetahui adanya dampak buruk, membohongi keluarga, teman, dan guru mengenai kegiatan bermain internet, Bermain internet untuk mengalihkan perasaan tidak nyaman (misalnya: rasa sedih, cemas, dan bermasalah), mengalami masalah dalam hubungan dengan teman, guru, orang tua dan prestasi sekolah dan menggunakan internet lebih dari 20 jam/minggu.

Yulia Wardani, MAN sedang menyampaikan presentasi di sesi 2

Pemegang gelar MAN (Master of Nursing) yang mengambil konsentrasi Psychiatric Nursing ini juga menjelaskan beberapa temuan hasil penelitihan yang berkaitan dengan penggunaan internet di Indonesia. Disebutkan bahwa 91,1 % remaja menggunakan internet, 67,2% remaja menggunakan internet kurang dari 20 jam /minggu, 31.4% remaja mengalami kecanduan internet (tertinggi di Asia Tenggara), terjadinya gangguan jiwa pada remaja (depresi 48 %, 56% behavioral problems). Dijelaskan pula bahwa kecanduan internet ditandai dengan penggunaan internet berlebihan akibat kurangnya kemampuan dalam pengendalian diri, dan menganggu fungsi sehari-hari.

Lalu bagaimana solusi yang ditawarkan? Perempuan yang saat ini menjabat sebagai ketua STIKes Panti Rapih menyebutkan beberapa hal yang bisa dilakukan keluarga untuk menghindari anak-anak dari adiksi internet. Yulia Wardani menyebut satu istilah yang menarik yakni “detox internet”, semacam membuang racun-racun yang ada dalam diri seseorang atau menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk yang berkaitan dengan penggunaan gadget, misalnya dengan melakukan kegiatan bersama seperti sepedaan bersama, melakukan kegiatan olahraga bersama dan dilakukan secara bertahap sehingga bisa menjadi kebiasaan bersama.

Keluarga harus mempunyai komitmen bersama atau pengkondisian serta menjaga komitmen bersama terhadap segala aturan keluarga yang berkaitan dengan pengguaan gadget/internet. Yulia Wardani juga menjelaskan bahwa orang tua tidak boleh mengijinkan anak usia 0-3 tahun untuk menggunakan internet, dan anak-anak di usia selanjutnya bisa menggunakan internet dengan supervisi dari orangtua. Di samping itu, orangtua bisa memberikan nutrisi digital yakni bimbingan agar anak-anak bisa mengakses konten internet yang tepat dan sehat. Di samping itu, anak-anak bisa diberi kegiatan-kegiatan yang melibatkan teman mereka agar mereka juga pandai bersosialisasi, dan tidak hanya sibuk dengan dirinya sendiri.

Acara pembekalan keluarga muda kemudian ditutup dengan peneguhan yang disampaikan oleh Rm Antonius Dadang Hermawan, Pr. Romo kelahiran Delanggu ini menegaskan bahwa internet akan menjadi baik bila digunakan secara baik, namun juga sebaliknya.

Sementara itu saat diwawancari KOMSOS-GMMK di sela-sela acara, Agustina Juanita Joesoef  berharap bahwa anggota keluarga bisa menjadi semakin dekat karena keluarga banyak terpisah karena keberadaan gadget. Gadget kadangkala bisa menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Dampak negatifnya bisa mengenai anak-anak. Dengan acara pembekalan seperti ini, diharapkan akan tercipta keluarga-keluaga yang tangguh.

“Hubungan harmonis kan tidak hanya hubungan suami istri, tetapi juga bagaimana membuat anak-anak berhasil, baik secara rohani maupun dalam hubungannya dengan masyarakat. Harapannya, keluarga akan menjadi keluarga yang tangguh. Itu kuncinya,” ungkap Juanita.

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *