Belajar Tentang Liturgi dari Romo Budi

“Romo, ajeng istirahat riyin mboten?” tanya saya pada romo Budi. Nama panggilan akrab romo Budi Haryana, Pr yang merupakan mantan Pastur Kepala Gereja Marganingsih Kalasan.

“Rasah, rung kesel kok” ujar Romo Budi seraya menghempaskan tubuhnya di kursi tamu ruang tamu gedung pasturan.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Meski baru saja mengikuti serangkaian acara pesta hari ulang tahunRS Panti Rini, tapi tak tampak kelelahan di wajah pria yang berasal dari Paroki Salam ini.

“Piye, meh tanya opo?” Romo yang tidak suka berbasa-basi ini segera mencecar saya dengan pertanyaan.

“Ndak, kok ‘mo, cuma mau ngobrol-ngobrol dikit” sebuah jawaban kontradiktif dari saya, yang jelas-jelas mau bertanya tapi kebanyakan ngorol ngalor ngidul dulu.

***

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan berbincang dengan Romo Budi.  Setelah bertugas kurang lebih 1,4 bulan, beliau mengakhiri masa tugas di Gereja Kalasan karena mendapat amanat dari Keuskupan Agung Semarang untuk menjadi Romo Vikaris Kevikepan Surakarta.

Sebuah kebanggaan bagi penulis karena romo yang dulu memberikan sakramen ijab pada penulis bisa  menjadi Romo Vikep. Bagi umat awam  hal tersebut merupakan sebuah promosi jabatan. Dari pastur kepala sebuah paroki kemudian menjadi kepala dari kevikepan yang membawahi 28 paroki di wilayah Surakarta.

Berasal dari Keluarga yang Religius

Terlahir dari  sebuah keluarga yang tinggal di sebuah dusun berjarak 6 km dari Salam, Muntilan, Jawa Tengah.  Romo Budi merupakan anak ketiga  dari 5 bersaudara  yang hidup dalam keluarga Katolik yang taat. Memiliki ayah yang aktif sebagai ketua lingkungan dan ibu yang juga aktif dalam semua kegiatan menggereja. Tak heran jika kakak perempuan Romo Budi juga menjadi suster, bahkan kedua saudara laki-lakinya juga sejak kecil ingin menjadi pastur juga tetapi hanya Romo Budi yang diijinkan oleh ayahnya.

Sejak kecil Romo Budi memang bercita-cita menjadi seorang pastur. Mulai dari kelas 4 SD sudah berkeinginan menjadi romo, keinginan tersebut diwujudkan dengan masuk ke Seminari Menengah Mertoyudan dan berlanjut hingga menjadi romo projo.

Liturgi Menurut Romo Budi

Dalam acara serah terima romo ada beberapa perwakilan umat yang memberikan kesan dan pesan tentang Romo Budi. Mayoritas dari kesan yang diberikan umat adalah semenjak Romo Budi bertugas di gereja Kalasan  umat  selalu dilayani dalam  misa pemberkatan jenasah dan misa perkawinan.  Hal tersebut menjadi salah satu keberhasilan dalam ketugasan Romo Budi yang baru berrtugas selama 16 bulan.

Umat merasa senang akan ilmu yang ditularkan Romo Budi kepada umat khususnya dalam bidang liturgi. Hal tersebut tidak mengherankan karena sejak tahun 2001 Romo Budi menjadi anggota tim di Komisi Liturgi sejak tahun 2003. Dan mengapa Romoo Budi begitu “nglotok” akan liturgi karena minat dan memang senang mempelajari liturgi gereja.

Ada dua hal pokok yang tentang liturgi menurut Romo Budi, yaitu :

  1. Liturgi merupakan warisan gereja yang usianya sudah berabad-abad lamanya,
  2. Liturgi tidak perlu dibuat yang aneh-aneh, semakin agung, berwibawa ketika dilakukan sebagaimana mestinya  dan menurut pakemnya, menurut asas yang berlaku. Liturgi semakin sederhana, agung dan semakin bermakna.

Pesan Romo Budi kepada umat yaitu mengajak umat untuk berliturgi  :

  1. Berliturgi secara sadar artinya tahu dan mengerti apa yang diucapkan apa maknanya/mengerti yang dilakukan dan didoakan.
  2. Berliturgi secara aktif artinya berperan sesuai dengan peran/bagiannya. Semakin umat aktif sesusai perannya maka dia semakin membangun liturgi yang agung. Orang bisa aktif jika sadar, maka menggunakan yang sudah umum dikenal.  Didalam gereja yang berkuasa dalam liturgi yaitu pastur. Pastur memegang kuasa yang utama, jika seorang pastur tidak tahu dan tidak mau tahu tentang liturgi maka gereja tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.
  3. Kekuatan gereja Katolik  ada dalam liturgi. Liturgi juga yang membedakan antara gereja Katolik dengan gereja lain. Romo Budi mengajak umat untuk menguasai liturgi.

Menjadi Diri Sendiri

Kesan pertama umat yang baru mengenal sosok Romo Budi  pasti mengira Romo Budi galak, angker dan sangar. Hal tersebut juga dibuktikan dengan kesan umat yang dibacakan oleh Bapak Lukito dalam acara serah terima romo pekan lalu.

Hal tersebut juga diakui Romo Budi jika umat menganggap Romo Budi itu galak. Bahkan sejak bertugas pertama kali di Promasan ada anak sekolah minggu yang membacakan puisi berbunyi “Romo Budi seperti tentara yang siap melawan (garang) tetapi hatinya baik”

Tetapi itu hanya kesan pertama setelah mengenal dan sering bertatap muka biasanya umat tahu jika Romo Budi disiplin dan mematuhi pakem, bukan serta merta galak.  Bahkan semua orang terutama anak-anak pasti dekat dengan Romo Budi jika sudah mengenal dengan baik. Romo Budi tidak takut dibilang galak dan karena sikapnya tidak dibuat-buat, itulah dirinya dan menjadi diri sendiri.

3 Tugas Utama Romo Budi di Paroki Marganingsih Kalasan

Ketika romo masuk di gereja Marganingsih Kalasan ada tiga rekomendasi yang merupakan supervisi dari FGD pada tahun 2016  yaitu tentang pelayanan murah hati, kepercayaan  dan formatio iman. Tiga poin tersebut menjadi tugas utama Romo Budi yang menjabat sebagai pastur kepala.

Romo Budi menjalankan tugas yang telah diamanatkan kepadanya dari pelayanan Kemurahan hati, romo mengeluarkan kebijakan jika  romo harus  melayani misa pemberkatan jenasah dan misa manten serta misa memule arwah.

Mendapatkan misa dari tiga hal tersebut merupakan hak umat yang harus dilayani,  bahkan ada ketentuan pastoral jika umat berhak mendapatkan liturgi pemakaman. Begitupun dengan perkawinan yang merupakan acara puncak dalam kehidupan berkeluarga. Jika perkawinan dilakukan antara umat Katolik dan Katolik maka romo paroki berkewajiban memberikan misa kudus.

Kemudian untuk peristiwa pemakaman merupakan kesempatan nomor satu, saat paling tepat untuk memberikan pewartaan Katolik karena yang dihadapi banyak umat dari agama berbeda, suku, ras dan hatinya terbuka. Peristiwa kematian merupakan kesempatan emas bagi gereja untuk memberi pewartaan.

Kalau sampai tidak dilayani dengan misa maka seorang romo akan kehilangan kesempatan memberikan pewartaan dan menyalahi ketentuan dengan tidak memberikan hak terhadap umat. Bahkan rumus Liturgi  sudah disiapkan khusus terutama dalam pemakaman dan perkawinan, gereja sudah menyiapkan dengan buku dan lagu.

Untuk tugas kedua yaitu Keprihatinan berkait dengan kepercayaan umat dalam tata kelola keuangan dan tata kelola penggembalaan.  Dalam jangka waktu yang pendek Romo Budi telah bekerja keras membenahi semua tata kelola gereja dari keuangan hingga tata kelola penggembalaan. Kerja keras romo-romo paroki membuahkan hasil, umat telah puas dengan tata kelola gereja khususnya tata kelola keuangan yang sekarang.

Tugas yang terakhir yaitu membentuk formatio Iman. Adanya keprihatinan dengan adanya pengkotakan dalam OMK. Romo Budi berusaha merangkul semua jenis OMK  dan membuang kesan adanya golongan elit dalam OMK.

 

Pesan Romo Budi Bagi Umat Kalasan

Romo Budi mengajak umat untuk berparoki dan menggereja sesuai dengan pedoman seperti pedoman keuangan, liturgi, yang sudah dibuat oleh keuskupan. Kuasaliah pedoman sehingga siapapun Romonya umat akan bisa berjalan sebagaimana mestinya serta mewujudkan gereja umat Allah.

Romo Budi juga berharap jika paroki Marganingsih Kalasan yang merupakan paroki tua yang sudah berumur 86 tahun semoga kedepan lebih tertata, khususnya tim dari lingkungan. Lingkungan hendaknya menjadi cerminan gereja begitu juga dengan susunan organisasinya. Sudah seharusnya setiap lingkungan memiliki 3 tim kerja utama yaitu timja liturgi, timja  pewartaan, timja PSE dan tim harian yaitu bendahara dan ketua lingkungan.

***

“Wis Ma, wis bengi” Ucapan Romo Budi mengingatkan saya akan waktu. Malam sudah begitu larut. Berbincang selama lebih dari dua jam seolah mengingatkan saya akan perjalanan saya bersama 5 teman mudika pada satu dekade yang lalu. Berjalan kaki dari gereja Jombor hingga Gua Maria Bayat yang membutuhkan waktu kurang lebih 3 sampai 4 jam dan Romo Budi setia menemani kami berjalan kaki. Banyak ilmu dan pelajaran yang bisa kami bawa dalam menjalani kehidupan dari Romo “sangar” tersebut.

Sosok Romo Budi tidak pernah berubah, “galak” , disiplin, sederhana dan berbobot dalam laku begitupun dengan homili yang diberikan.

Selamat bertugas Romo Vikep!

Proficiat.

 

Riwayat Penugasan

Tahun 1995-1999  : Bertugas di Paroki Promasan, Tahun 1999-2003 : Bertugas di Papua
Tahun 2003-2007  : Bertugas di Paroki Tanah Mas Semarang, Tahun 2007-2011  : Bertugas di Paroki Jombor
Tahun 2011-2013  : Bertugas di Papua, Tahun 2013-2016  : Bertugas di Sukoharjo
Tahun 2017-2018  : Bertugas di Paroki Marganingsih Kalasan
Tahun 2018       : Bertugas menjadi Vikaris Kevikepan Surakarta

 

 

Primahapsari

Travel-Lifestyle-Food Blogger . Visit us at www.primahapsari,com / www.ceritapiknik,com

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *