“Satu Hati, Satu Iman, Seribu Pelayanan”

Pada hari Minggu, 20 Januari 2019 yang lalu Ibu-Ibu Wilayah Santa Maria dan Santo Yosef Kalasan Barat mengadakan rekoleksi bersama. Rekoleksi merupakan salah satu cara untuk melatih hidup rohani dan menumbuhkan rasa untuk berubah menuju ke arah yang lebih baik.  Pastoran Santo Yohanes Paulus II Brayut menjadi tempat  diadakan Rekoleksi ibu-ibu Wilayah Santa Maria dan Santo Yosef Kalasan Barat. Antusiasime peserta cukup besar, rekoleksi ini dihadiri oleh 100 peserta.

Rekoleksi  diawali dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Windaryati , kemudian para peserta bersama-sama menyanyikan mars Santa Maria dan Santo Yusup. Kemudian Ibu E. Siwi Wayani selaku ketua Panitia Rekoleksi menyampaikan jika rekoleksi diadakan dalam rangka menitih tahun 2019 ini dengan harapan besar di tahun 2019 sebagai ibu lebih mampu melayani baik di dalam keluarga, masyarakat bahkan gereja  maupun dimana pun berada sehingga mampu memuliakan nama Tuhan lebih lagi melalui pelayanan kita.

Tamu dari WKRI cabang  Sleman memaparkan mengenai etika berorganisasi dan berkomunikasi serta perbedaan WKRI dengan ibu-ibu Paroki, dengan tujuan agar kita lebih paham, posisi kita dimana, kita harus seperti apa. Hingga menjadi sebagai seorang wanita bahkan ibu yang dapat menempatkan posisi kita dalam berkarya.

 

Dan pada sesi yang kedua dengan narasumber  Romo Tri Margono sesuatu kesempatan yang luar biasa, dan bisa meneguhkan sebagai seorang wanita dan ibu dalam pelayanan serta karya. Kemudian sambutan dari  Ch. L. Ramelan Suwarni mewakili Restituta Sri Widiastuti (Ketua WKRI Cabang Sleman) dari WKRI Cabang Sleman. Mengungkapkan rasa bangga bahwa anak Ranting Purwo Barat ini dapat berkembang, berjalan beriringan serta bersinergi dengan ibu – ibu wilayah dalam melaksanakan suatu kegiatan. Bangga karena ibu-ibu muda terlibat dalam rekoleksi, dan ini merupakan contoh konkret bahwa regenerasi berjalan. Dan besar harapannya Wanita  Katolik Anak Ranting Purwo Barat ini mampu menjadi teladan bagi wanita katolik anak ranting lainnya.

Satu Hati Satu Iman Seribu Pelayanan

 

Rekoleksi ini mengangkat tema “ Satu Hati Satu Iman Seribu Pelayanan”. Rekoleksi ini dibagi menjadi 2 sesi. Sesi yang pertama yang diisi oleh Nasaria Cahyantini Agus Siswanto. Pada sesi 1 ini disampaikan bagaimana etika dalam berorganisasi dan berkomunikasi dengan sesama yang baik, sehingga menjalin suatu paguyuban yang sangat harmonis dan berkesinambungan.

Sesi pertama disampaikan Nasaria Cahyantini Agus Siswanto dan didampingi oleh Juanita  dengan teman “Mari Tersenyum”. Pada sesi pertama ini membahas mengenai etika, etika ini dibagi menjadi 4, yaitu :

  1.  Etika Berkomunikasi dengan menggunakan artikulasi yang jelas serta nada bicara yang baik.

Etika dalam pertemuan meliputi: tidak mendominasi percakapan, mulailah dengan pertanyaan yang umum seperti aktivitas atau hobi, jaga pandang terhadap lawan bicara, tidak menguap terang-terangan, tidak bersiul-siul, tidak bergosip, tidak mudah terpancing emosi.

2.  Etika berbusana/ berpakaian: Ini sangat hal yang penting, karena orang dilihat pertama kali yaitu penampilan. Etika berbusana ini meliputi: disesuaikan dengan event, disesuaikan dengan budaya, disesuaikan dengan kondisi tubuh, pemilihan warna yang tepat, modis namun tidak seronok.

3.  Etika bertelpon/ berkomunikasi melalui media telepon atau whatsapp. Meliputi: menggunakan bahasa yang sopan serta mennyejukkan, memuat berita yang bermutu atau lelucon yang menyegarkan, tidak marah dalam grup, tidak menyindir dalam grup, mengiringi karya dengan doa/ karya dengan rahmat ilahi, organisasi harus dikalahkan jika bertentangan dengan Gereja.

Hal nyata yang bisa dilakukan dengan mengampuni, tidak single fighter dalam melaksanakan tugas dalam berorganisasi.  Pengurus juga mau rela berkorban, baik itu perasaan, waktu, dan  materi. Dapat belajar pula dari kepemimpinan para rasul yaitu: dalam kesulitan tekun doa bersama, mengandalkan bantuan Roh Kudus, lebih taat kapada Allah daripada kepada manusia.

Dalam sesi pertama ini ibu Nasaria Cahyantini Agus Siswanto ini berpesan :

“Untuk bibir yang indah ucapkan hanya perkataan yang baik

Untuk mata yang indah biasakan hanya melihat kebaikan dalam diri orang lain

Untuk tubuh yang langsing mau berbagi makanan dengan orang lain yang kelaparan

Untuk rambu yang indah izinkan ada menyentuh rambut anda

Untuk tenang yakinlah bahwa anda tidak sendiri

Orang melebihi barang harus disayangi, diteguhkan, dibela serta diselamatkan.

Setiap kali memerlukan pertolongan itu sudah ada diujung tangan anda”

 

Menjadi Wanita Bijak

Pada sesi yang kedua dengan narasumber Romo Tri Margono “Menjadi Wanita Bijak”. Romo bercerita bahwa sebelum mengisi sesi pada rekoleksi tersebut, Romo Tri Margono sempat memberitahukan via Whatsapp kepada Mgr Robertus Rubyatmoko bahwa ada acara bersama ibu – ibu wilayah Anak Ranting Purwo Barat dan Mgr. Robertus Rubyatmoko menitipkan pesan untuk ibu-ibu peserta rekoleksi melalui Romo Tri Margono.

Romo Tri Margono memulai rekoleksi ini dengan mengajak wanita katolik Anak Ranting Purwo Barat bernyanyi dengan lirik lagu

“ SRAWUNG ING WKRI” (dengan nada lagu “AKU BANGGA JADI ANAK KATOLIK”)

Aku SENENG srawung ing WKRI

Aku BUNGAH srawung ing WKRI

Aku SETYO srawung ing WKRI

Aku pancen MANTEB srawung ing WKRI

Aku SENENG dadi pandherek Gusthi

Aku BUNGAH dadi pandherek Gusthi

Aku SETYO dadi pandherek Gusthi

Aku pancen MANTEB dadi pandherek Gusthi

Melalui lagu yang dibawakan Romo Tri Margono ini bersama dengan peserta rekoleksi ini dapat meneguhkan para  mau jadi ibu paroki, WKRI, katolik harus manteb seperti pada lagu tersebut. Jika kita mau menjadi seperti apapun tidak akan ada gunanya jika kita melakukannya dengan dengan tidak senang hati. Bungah dengan Seneng itu berbeda. Bungah merupakan rasa gembira yang hadir dari dalam hati kita sendiri, sedangkan seneng hadir dari sekitar kita. Berkumpul dalam kebersamaan Tuhan memberikan berkat yang melimpah untuk kita semua.  Jika orang gembira bisa membawa kabar sukacita bagi sesama. Apa yang kita lakukan dengan ikhlas berkat Tuhan melimpah tiada hentinya bagi kita. Orang yang setia sudah diuji dalam seiring berjalannya waktu.  Kesetiaan menjadi sangat penting ketika Tuhan membuat seseorang menjadi bijak  dalam proses. Kematangan seorang pribadi merupakan pembentukan pribadi yang bijak, bagaimana kita berpenampilan di depan umum.

Dalam kita berorganisasi juga harus srawung, guyub dan juga rajin dalam berkarya. Makarya itu baik namun jangan sampai lupa untuk berdoa. Jika seorang anak lahir dalam kondisi tuli pasti ia bisu, namun jika bisu belum tentu tuli. Karena semua hal yang dapat kita pelajari itu mulai dari mendengarkan maka dapat berbicara. Betapa penting kita memiliki keterampilan untuk mendengar, sehingga kita mendengar berita kita dapat bertumbuh dalam hal yang baik. Dari yang kita dengar itulah yang membentuk kita terutama hati juga terbentuk.

Lukas 1: 39-45 Meneladan 2 tokoh wanita yaitu Elizabeth dan Maria yang merupakan teladan wanita yang rendah hati, cepat tanggap, jujur dan percaya

Romo Tri Margono mengambil teladan dari Bunda Maria dan Elizabeth yang merupakan tokoh wanita katolik yang sangat bijak dan rendah hati. Contoh konkretnya adalah para wanita mau turut hadir dalam rekoleksi ini dan mau menerima dan menerapkan apa yang didapat dalam rekoleksi  pada kehidupan sehari- hari baik di keluarga, gereja bahkan masyarakat.  Yohanes Pembaptis dalam kandungan melonjak kegirangan ketika Maria mengunjungi Elizabet. Jika orang itu baik dan suci berbicara pasti didengarkan. Hadir Maria membawa orang bangkit dalam kasih dan menjadi berkat bagi sesama kita, terutama bagi anak-anak. Memberikan berkat bagi  anak itu sama saja orang tua mencurahkan berkat serta Roh Kudus bagi anak-anak. Hendaknya para orangtua terutama seorang ibu mengasihi anak-anak dengan tulus tanpa harus mebandingkan . “Siapakah aku ini sampai Ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” petikan kitab suci ini merupakan perkataan dari Elizabet  yang dapat menggambarkan sifat keibuan. Seorang yang menjadi besar, bijak, serta jujur maka Allah semakin mengasihinya, imannya pun diharapkan semakin bertambah besar. Romo Tri Margono Merefleksikan ketika dalam berkomunikasi kita mampu menampilkan rasa persaudaraan. Pada akhir pada sesi kedua ini Romo Tri Margono kepada peserta rekoleksi agar dalam berorganisasi untuk srawung, mewartakan kabar sukacita kepada sesama.

Romo Tri Margono dalam perayaan ekaristi juga menyampaikan dalam homilinya menyampaikan kepada para peserta rekoleksi ini agar mampu menjadi seorang ibu yang baik seperti Maria yang percaya kepada Yesus Kristus yang merupakan jalan, hidup serta kebenaran sampai akhir hayat. Dengan percaya kepada Yesus Kristus, kita akan menghadap kepada Bapa dengan mulia. Dan diharapkan para wanita katolik mampu semakin terlibat, semakin mampu menjadi berkat. Seperti pada injil bahwa kedatangan Maria dalam perkawinan bukan jagong namun rewang. Maria memiliki kelebihan dalam dirinya yang mapu kita teladan yaitu tanggap. Dan Bacaan Injil juga mengajak untuk srawung, menghidupi gotong royong pada kehidupan sosial keseharian. Maria percaya kepada Yesus, karena Tuhan tidak akan tinggal diam ketika ada kesulitan, kita pun mampu belajar dari Bunda Maria yang tanggap, jujur, percaya.

Dan pada akhir homilinya Romo Tri Margono mengajak para peserta rekoleksi untuk berani terlibat, karena  dengan terlibat maka kita mampu mendapat berkat bagi sesama.

 

***

Foto dan liputan oleh Monica Aurelia

 

Primahapsari

Travel-Lifestyle-Food Blogger . Visit us at www.primahapsari,com / www.ceritapiknik,com

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *