Pentigraf: PULANG by Tantrini Andang

“Pulanglah Din, kami semua rindu padamu.” Itu kalimat terakhir Astri, kakak perempuanku lewat telepon sore itu. Sama seperti tahun-tahun yang lalu. Astri selalu menelepon dan mengharap kepulanganku ke rumah, berkumpul merayakan Natal bersama keluarga. Namun berbagai alasan kesibukan selalu kukemukakan padanya hingga ini telah mencapai Natal keenam aku tidak pulang. Kuhela nafas lagi. Apakah sudah saatnya aku harus berani bertemu dengan kakakku dan lelaki itu lagi?

Lalu tiba-tiba aku seperti melihat sebuah film yang diputar di depanku. Tampak jelas sebuah kejadian pada enam tahun lalu. Hendra, lelaki yang kucintai dengan sepenuh hati, justru menyatakan cintanya kepada kakakku. Ia mengaku bahwa kedekatannya denganku adalah caranya untuk bisa mendekati Astri. Aku terpukul dan terluka. Memang benar kata orang bahwa rasa cinta dan benci hanya dipisahkan oleh satu helai rambut saja. Aku membenci lelaki itu, juga kakakku. Sehari setelah resepsi pernikahan mereka, aku memutuskan untuk pergi menjauhi mereka. Aku menjalani kehidupanku sendirian di kota kecil ini. Aku tak sanggup melihat tawa bahagia mereka di depanku. Hatiku butuh waktu untuk mengobati dirinya sendiri.

Lonceng gereja berdentang dari kejauhan. Ini adalah malam Natal yang keenam aku jauh dari keluargaku. Sesaat gema dentangnya menelusup ke dalam hatiku. Apakah yang kucari saat ini? Mengapa di saat Sang Penyelamat menawarkan cinta, aku justru menebar rasa benci? Tak ada yang salah dalam cinta. Begitu pun Hendra yang ternyata lebih mencintai kakakku. Perlahan kusadari bahwa dengan merawat rasa kecewa telah menghalangiku untuk lebih membuka diri pada cinta yang lebih besar, cinta dari Sang Muasal Segala Cinta. Nyatanya aku selalu merasa hampa dan kesepian. Aku ingat jelas suasana saat kami sekeluarga mengelilingi pohon natal besar yang kami hias bersama, memasak makanan khas Natal, dan saling bercengkerama hingga larut malam. Tak terasa air mataku mengalir perlahan. Tuhan, ternyata aku juga merindukan mereka! Lalu entah apa yang menggerakkan jemariku untuk memencet nomor sebuah biro perjalanan dan memesan tiket pulang. Setelah itu kutelepon Astri. “Iya Kak, aku akan pulang besok. Aku belum bertemu dengan keponakanku.”

Tantrini Andang adalah sastrawan yang lahir di Solo 10 November 1972, kini tinggal di Salatiga. Awalnya menulis  novel dan kumpulan cerita untuk anak yang diterbitkan Penerbit Andi, Yogya. Semenjak bergabung dengan Komunitas Penulis Katholik Deo Gratias (KPKDG), ia  menulis  sebuah antologi puisi, tiga antologi cerpen, dan dua kitab pentigraf bersama para anggota komunitas. Beberapa cerpennya dimuat di Majalah  Story, Koran Joglosemar, dan Majalah Hidup. Sebuah novelet remajanya  diterbitkan oleh Bentang Pustaka dalam wujud ebook dan dipasarkan di Google Play Book.

Catatan:

  • Pentigraf adalah cerpen yang hanya berisi 3 paragraf.
  • foto diambil dari https://www.google.com/search?q=pulang&client=firefox-b&source=

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *