Pembekalan Ketua Lingkungan: Menciptakan relasi umat yang makin personal

KOMSOS-GMMK. “All work and no play makes Jack a dull boy”. Barangkali ungkapan dalam Bahasa Inggris ini cocok untuk menggambarkan betapa pentingnya keluar dari rutinitas kerja sejenak dan melakukan suatu aktivitas yang menyenangkan untuk mengikis kepenatan sekaligus me”recharge” diri agar memperoleh energi baru.  Begitulah yang dilakukan para ketua lingkungan se paroki Maria Marganingsih Kalasan pada hari Senin, 16 Mei 2022.

Bertempat di Melcost café di Jl Kalurang yang berhawa sejuk diselenggarakan acara pembekalan yang melibatkan semua ketua lingkungan se-paroki Maria Marganingsih Kalasan. Acara yang diprakarsai oleh Dewan Pastoral Paroki Maria Marganingsih Kalasan ini menghadirkan nara sumber dari Tim UPP Misi. Dari 90 lingkungan yang ada, hanya 1 ketua lingkungan yang tidak hadir dan prosentasi kehadiran ini sungguh luar biasa dan sangat membanggakan. Hadir pula para romo yang saat ini bertugas di Paroki Maria Marganingsih Kalasan yakni Rm Antonius Dadang Hermawan, Pr, Rm F.X. Murdi Susanto, Pr dan Rm Vintentius Yudho Widianto, Pr.

Panitia sengaja menempatkan para ketua lingkungan dalam meja per wilayah agar semakin mengakrapkan ketua lingkungan, sekaligus mereka bisa sharing pengalaman bagaimana bergelut dengan dinamika umat di lingkungan masing-masing. Acara yang dipandu dengan apik oleh Agustina Juanita Joesoef dan Archadius Hartono ini terbilang sukses baik dari segi jumlah peserta, variasi kegiatan, partisipasi peserta maupun isi dari pembekalan itu sendiri yang sangat sesuai dengan dinamika yang selama ini dialami oleh para ketua lingkungan.

Acara dibuka dengan doa oleh Paulus Sriyanto dan dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh Maria Ani. Acara dilanjutkan dengan kata sambutan yang disampaikan oleh St Sunaryo (Wakil Ketua 2 Dewan Pastoral). Lelaki pensiunan karyawan PT Telkom ini menyebutkan bahwa kegiatan ini sebenarnya sudah direncanakan 2 tahun lalu namun akibat pandemi kegiatan pembekalan ini ditunda dan bersyukur bahwa kegiatan ini akhirnya bisa dilaksanakan. Penulis cerita wayang di ‘Inspirasi Pagi’ dan renungan di ‘Inspirasi Injil Hari Ini’ berharap lingkungan harus siap untuk dimekarkan apabila sudah memenuhi syarat dari jumlah KK demi pelayanan yang lebih efektif kepada umat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan melakukan permainan dalam kelompok. Para ketua lingkungan diajak untuk berlomba bermain golf dan bermain panahan. Gelak tawa terdengar di sana sini ketika para ketua lingkungan saling meledek ketika mereka mencoba membidik lubang golf atapun membidik titik bidikan anak panah. Kelompok yang bermain golf dipandu oleh Juanita Joesoef bersama tim, sedangkan kelompok yang bermain panahan dipandu Archadius Hartono dibantu beberapa anggota dewan yang lain. Acara permainan di ruang terbuka ini berhasil mencairkan suasana, mengakrapkan para ketua lingkungan dan melahirkan energi baru bagi para ketua lingkungan.

Sesudah acara permainan, kemudian masuk pada acara inti yakni pemaparaan dari tim UPP misi yang disampaikan oleh Antonius Tri Usada Sena, Sekretaris Museum Animasi Misioner Muntilan. Dengan gaya presentasi yang menarik dan menghibur, pemateri menjelaskan tentang 3 hal yakni identitas paguyuban lingkungan, kekayaan sejarah KAS dan tugas-tugas ketua lingkungan.

“Sangat menyenangkan bila berjumpa dengan ketua lingkungan karena ketua lingkungan itu sosok yang penting, ujung tombak dan ujung “tombok”, dan itu surganya paling tinggi. Maka berbahagialah mereka yang dipilih menjadi ketua lingkungan karena ketua lingkungan itu setara dengan para nabi di dalam kita suci. Para nabi pun pada awalnya tidak mau menjadi nabi, itu pulalah yang dialami oleh para ketua lingkungan pada awal menjabat sebagai ketua lingkungan,” ujar lelaki yang lebih akrab dipanggil Pak Sena di awal pembekalan yang disambut gelak tawa peserta.

Dijelaskan bahwa lingkungan adalah paguyuban umat beriman yang bersekutu berdasarkan kedekatan tempat tinggal dengan jumlah antara 10-50 keluarga, ditetapkan oleh Pastor Paroki dan berada dalam tata kelola serta reksa pastoral paroki dengan kepengurusannya sendiri. Diksi paguyuban sungguh ditekankan di sini karena relasi antarumat di lingkungan itu bersifat personal. Suasana personal inilah yang sangat dirindukan.  Ini bisa menjadi pintu masuk untuk mengembangkan paguyuban lingkungan.

Bentuklah lingkungan dalam suasana personal (Antonius Tri Usada Sena)

Di samping bersifat personal, lingkungan juga bersifat teritorial yakni ada unsur kedekatan tempat tinggal dan umat tidak bisa memilih untuk berkomunitas di lingkungan lain.

Pemateri juga mengingatkan bahwa kegiatan lingkungan tidak harus diisi dengan hal-hal yang rohani, namun bisa diisi hal hal non-rohani karena lingkungan itu ranahnya kaum awam. Pengembangan lingkungan itu dimensinya adalah berani salah sebagaimana pernah disampaikan Kardinal Ignatius Suharyo yang pernah mengatakan “Kalau ada apa-apa dicoba saja, kalau benar saya ikut, kalau salah saya ampuni.”

Pada jaman dahulu , Rama Prennthaler dan Rama Satiman, SJ membentuk Pamong Umat di setiap dusun agar reksa pastoral umat semakin baik dan menjangkau banyak umat. Mereka bisa disebut sebagai “Malaikat Pelindung”.

Di tiap dusun pamong bertugas untuk menyampaikan berita dari rama kepada warganya, mengawasi pelaksanaan kewajiban-kewajiban warga umat Katolik, memberikan informasi kepada rama apabila ada pembaptisan bayi dan pengurapan orang sakit, melayani penguburan secara Katolik, memberikan pelajaran agama bagi calon baptis dan baptisan baru, dan memimpin ibadat harian atau mingguan di dusunnya. Untuk saat ini, pamong umat mewujud dalam prodiakon, katekis, dan ketua lingkungan.

Sementara itu berdasarkan Konferensi pastoral di Bintaran 1934 disebutkan beberapa poin penting antara lain: “Sebab kita adalah sungguh-sungguh Katolik, dari pada itu kita adalah sebenar-benarnya patriot juga. Oleh karena kita merasa patriot seratus persen, sebab itu kita pun merasa Katolik seratus persen pula.  Bahkan menurut hukum perintah Tuhan jang keempat, seperti jang tertjantum dalam buku catechismus, kalau saudara-saudara masih ingat, kita diwadjibkan menaruh tjinta kasih kepada Geredja dan Negara dengan ichlas hati.”

Mengutip Surat Gembala 25 Januari 1964, Pak Sena mengingatkan kembali pesan yang pernah diungkapkan oleh Justinus Kardinal Darmojuwono ““Dadi warganing Pasamuan Suci kudu gelem kumpul, sing ora tau kumpul bakalé ucul, ananging sing gelem kumpul kudu wani cucul.” Lalu bagaimana umat kemudian bisa berpatisipasi? Romo Kardinal kemudian mengatakan “sethithik ora ditampik, akèh rowa saya utama.”

Biarkanlah umat berperan sesuai dengan talenta mereka sendiri-sendiri.(Antonius Tri Usada Sena)

Yang terakhir, pemateri mengingatkan kembali tugas ketua lingkungan, berdasakan BAB IV: ( Dewan Pastoral Paroki), Pasal 53 mengenai Tugas Ketua Lingkungan:

  1. Mengembangkan dan mengurus reksa pastoral warga Lingkungan dalam kesatuan dan koordinasi dengan reksa pastoral paroki
  2. Memastikan adanya data umat yang selalu diperbarui sesuai sistem pendataan umat dari keuskupan
  3. Memastikan terjadinya pertemuan-pertemuan dan kegiatan-kegiatan lingkungan
  4. Mengerakkan keterlibatan umat sebagai wujud kesaksian iman di tengah masyarakat
  5. Membangun kerjasama dengan Bidang-Bidang Pelayanan, Tim-Tim Pelayanan Dewan Pastoral Paroki, Lingkungan lainnya serta Kelompok Kategorial mengembangkan umat dan masyarakat.

Sementara itu pemateri kedua adalah Romo Fr. Yunarvian Dwi Putranto Pr (koordinator Unit Pengembangan Pastoral (UPP) Misi). Romo muda yang akrab dipanggil Rm Yuyun ini mengajak ketua lingkungan untuk berefleksi dari kisah kedua belas rasul. Dijelaskan bahwa kedua belas rasul bukanlah orang hebat. Kebanyakan rasul adalah nelayan yang tidak mengenyam pendidikan intelektual atau pun rohani yang baik. Dijelaskan pula bahwa menjadi rasul adalah anugerah, bukan pencapaian atau prestasi.

Sebagaimana Yesus yang menghargai kelebihan dan kekurangan para rasul, demikian pula ketua lingkungan pun diharapkan mau meneladani Yesus dengan menghargai kelebihan dan kekurangan umat di lingkungan. Yesus juga dikenal sebagai pribadi pemersatu. Meskipin ada perbedaan latar belakang dan karakter yang berbeda-beda para rasul, namun Yesus berhasil menyatukan mereka. Yesus juga memberi kesempatan para rasul terlibat dalam karyaNya. Yesus menunjukkan teladan baik dalam mendampingi para murid-Nya Dalam karya-karta kerasulannya, para rasul pun ada saatnya salah, ada saatnya benar.

Bagaimana dengan panggilan dan perutusan para rasul? Para Rasul menerima panggilan dan perutusan pada awalnya dengan motivasi politis-duniawi.

Anda pun sebagai ketua lingkungan juga menerima panggilan dan perutusan ini dengan berbagai macam motivasi, dan saya yakin tidak 100 persen motivasi Anda murni motivasi rohani. Tidak masalah, yang penting Anda terbuka pada pemurnian motivasi seperti para rasul (Rm Yuyun).

Sesudah diselingi acara pembagian doorprize, acara dilanjutkan pemaparan singkat dari Rm Antonius Dadang Hermawan, Pr. Romo Dadang sangat mengapresiasi kehadiran dan partisipasi yang luar biasa dari para ketua lingkungan.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada semua ketua lingkungan yang merelakan waktunya untuk hadir di tempat ini. Terima kasih juga untuk ketua wilayah dan dewan pastoral harian yang memfasilitasi kegiatan ini. Terima kasih juga untuk Rm Yuyun dan Pak Sena,” ujar Rm Dadang di awal sambutannya.

Romo Dadang kemudian mengingatkan bahwa menjadi ketua lingkungan itu menderita namun terpujilah karena itulah jalan menuju kerajaan Allah. Karya Roh Kudus itu seringkali “menelikung”, namun perlu direfleksikan bahwa menjadi ketua lingkungan itu adalah karya Roh Kudus.  

Romo Dadang juga menjelaskan tentang pergantian pengurus dewan pastoral. Proses pergantian akan dibalik yang dimulai dari pemilihan pengurus dewan pastoral kemudian baru pengurus lingkungan. Ketua lingkungan bisa mengusulkan satu nama calon pengurus dewan pastoral. Pada tanggal 18 September 2022 diharapkan sudah terbentuk pengurus dewan pastoral, sementara penjaringan ketua lingkungan harus selesai pada 15 Oktober 2022 dan ketua wilayah pada tgl 15 November 2022. Semua akan dilantik pada perayaan Misa Natal sore.

Berbicara tentang pelayanan kepada umat, perlu diingat bahwa yang kita layani adalah jiwa. Tuhan mengutus kita untuk menyelamatkan jiwa. (Rm Dadang)

Sementara diwawancari KOMSOS-GMKK, Bernadus Purnama (Sekretaris 1 DPP) menyebutkan bahwa tugas ketua lingkungan justru paling berat dan rumit karena langsung berhadapan dengan umat, problem dan permasalahan beragam misalnya masalah pernikahan, bantuan  sosial baik karitatif ataupun urusan syarat syarat untuk urusan prolenan, dll. Pendeknya ketua lingkungan adalah ujung tombak pelayanan umat dan wajah gereja akan diwakili ketua lingkungan di lingkungan masing-masing.

Pembekalan ini bertujuan untuk menyegarkan semangat pelayanan. Acara pembekalan semacam  ini sangat diperlukan dan bisa dilaksanakan minimal 2 tahun sekali. (Bernadus Purnama)

Sementara itu diwawancarai KOMSOS GMMK, Hastuti ketua lingkungan dari Lingkungan St Yakobus menyebutkan bahwa ia mendapatkan kesan positif dari rangkaian acara yang dilaksanakan karena acaranya dikemas  santai dan sebagai kaling untuk periode kedua, acara ini tepat sebagai bentuk penyegaran.

“Games yang dilakukan di awal acara membangun suasana cair dan menghidupkan keceriaan di antara peserta sehingga materi pembekalan yang diberikan selanjutnya lebih mudah diterima,” ujar Hastuti.

Begitulah ketua lingkungan sejatinya perlu diapresiasi dengan kegiatan yang bersifat kebersamaan, refreshing dan pemberian motivasi untuk melejitkan semangat pelayanan mereka.

Foto oleh Monica Aurelia

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *