407 LIngk St. Maria Sidokerto: Misa lingkungan – Belajar Rendah Hati dari Maria

Pada hari Rabu tanggal 20 September 2023 lingkungan Santa Maria Sidokerto wilayah Robertus Billarminus  mendapatkan sapaan dari romo vikaris paroki Maria Marganingsih Kalasan yakni Romo Yohanes Ngatmo, Pr.  Sejak pandemi covid 19, kunjungan pastoral yang dikemas dalam bentuk misa lingkungan baru pertama kali diselenggarakan di lingkungan Santa Maria Sidokerto. Bak gayung bersambut, Romo menawarkan diri dan umat merindukan. Tawaran Romo disambut dengan cepat oleh tim pelayan lingkungan sehingga dalam waktu yang cukup singkat, tepatnya satu minggu, segala keperluan yang dibutuhkan dapat dipersiapkan dengan baik.

Ada hal yang menjadi kebiasaan baik dan perlu dipertahankan dari lingkungan ini yakni kebersamaan dan semangat rela berbagi dari umat lingkungan. Jika ada kegiatan yang memerlukan dukungan maka apa yang dimiliki umat direlakan dan disumbangkan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Sebagai contohnya, pada kegiatan misa ini dengan dukungan koordinasi yang baik, maka umat yang memiliki ketrampilan dekorasi, maka dia akan membantu mempersiapkan tempat agar terlihat bagus dan indah. Umat yang memiliki panenan beras, maka dia akan menyumbangkan nasi. Umat, yang memiliki ayam memberikannya untuk dijadikan bahan santapan jasmaninya. Umat yang pandai membuat puding membawa hasil ketrampilannya. Umat yang pandai memasak meluangkan waktunya untuk menyiapkan hidangannya. Demikian pula umat yang memiliki dana lebih, maka dia dengan senang hati membelikan kebutuhan yang kiranya diperlukan. Begitulah salah satu cara yang dilakukan umat lingkungan ini untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan menggereja di lingkungannya.

Dalam acara misa lingkungan ini dipilih bacaan injil tentang Maria yang mengunjungi Elisabet. Homili yang disampaikan Romo yang sebelumnya bertugas di Gereja Santa di Fatima Sragen ini cukup mudah dipahami karena diberikan gambaran atau contoh yang biasa terjadi dalam kehidupan masyarakat sehari- hari. Disinggung pula tentang pemilihan nama Maria sebagai pelindung lingkungan ini tentunya sudah dipertimbangkan dengan baik dengan harapan umat dapat meneladani sikap dan perilaku sesuai rekam jejak dari pelindungnya. Romo Ngatmo juga memberikan contoh tentang santo pelindung yang dipilihnya, yakni Yohanes, sang penginjil. Semula Romo akan memilih Yudas Iskariot, yang berkianat dengan menjual Yesus. Namun karena dimarahi guru agama dan agar tidak menimbulkan kemarahan orang banyak maka urunglah memilih nama itu.

Terkait dengan isi bacaan Injil, dalam homilinya Romo memunculkan pertanyaan “Mengapa Maria yang mengunjungi Elisabet dan bukan Elisabet yang mengunjungi Maria? ” . Kita ketahui bersama bahwa Maria yang melahirkan Yesus memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pada Elisabet yang melahirkan Yohanes Pemandi. Lagi pula Maria selama tiga bulan tinggal di rumah Elisabet, apa yang dia lakukan selama itu? Seperti halnya kita, kalau bertemu dengan saudara, teman ataupun tetangga, apa yang kita lakukan? Pasti kita akan “rasan- rasan”, cerita atau curhat. “Rasan-rasan” yang baik dapat memberikan dukungan yang baik pula bagi orang yang mendengarkannya.

Elisabet adalah simbol atau gambaran kita semua. Elisabet memuji Maria, tetapi Maria tidak balik memuji Elisabet namun Maria memuji Allah. Mendengar pujian dari Elisabet Maria tidak tersanjung, tidak terpelanting ke atas, tidak lupa daratan. Maria tetap rendah hati dan bisa menemani Elisabet selama tiga bulan.

Maria menjadi teladan agung karena semangat kerendahan hatinya. Dengan semangat ketaatannya pada Allah pula, Maria mendampingi Yesus hingga wafat di kayu salib dan memangku jenasah Yesus.

Dalam kegiatan ini hadir pula tim liturgi gereja St Ignatius Kalasan Tengah serta ketua wilayah Robertus Billarminus sehingga menambah semaraknya suasana. Sungguh tepat kiranya waktu yang dipilih untuk pelaksanaan misa lingkungan ini karena tim pelayan lingkungan juga sedang memikirkan dan mencari saat yang tepat untuk menyapa dan menyambut umatnya yang pada tahun ini menerima komuni pertama dan sakramen krisma sehingga dengan adanya misa kali ini tim pelayan juga mengagendakan untuk memberikan kenang- kenangan.

Dalam bincang-bincang santai, tokoh umat yang paling lama tinggal di lingkungan ini menceritakan perjalanan dan perkembangan lingkungan yang semula satu lingkungan hingga saat ini telah berkembang menjadi enam lingkungan. Salah satunya adalah lingkungan Maria yang sebagian besar umatnya lansia dan banyak perempuannya. Selanjutnya diagendakan foto bersama dan sambil ngobrol santai juga dilaksanakan acara makan malam bersama dengan menu soto ayam kampung yang telah disiapkan umat.

Sungguh luar biasa penyambutan dan penghargaan umat terhadap kehadiran Romo saat ini. Dengan tidak adanya umat yang pulang mendahului dan tidak adanya gelagat tergesa- gesa, ini menandakan bahwa semua umat yang hadir menikmati pertemuan ini. Saat diantar pulang ke pasturan, Romo Ngatmo yang mulai bertugas di paroki Maria Marganingsih Kalasan sejak 11 Febuari 2023ini menyampaikan kesan baiknya terhadap lingkungan ini.

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *