407 St. Maria Sidokerto: Bulan Rosario – Jadilah Seperti Biji Sawi dan Ragi

Melanjutkan kegiatan rutinnya pada Minggu keempat bulan Oktober 2023 lingkungan St Maria Sidokerto Wilayah Robertus Billarminus mengadakan ibadat rosario pada hari Senin tanggal 23 Oktober 2023 di rumah keluarga Agustinus Brany Kurnianto dan dipimpin oleh Restituta Estin Ami Wardani. Permenungan yang diambil dari bacaan Injil Lukas 12 :35-38 berisi nasehat Yesus tentang menantikan kerajaan surga melalui perumpamaan.

Kebiasaan sebagai seorang guru bahasa Indonesia, Ami Wardani mengajak umat untuk mencari kata kunci yang ada di dalam bacaan tersebut. Ada tiga SS sebagai kata kunci. Dari ayat 35, ungkapan tentang pinggang tetap terikat dan pelita tetap menyala bersifat metaforis yang menggambarkan sikap siap siaga (untuk bekerja atau pergi) dan siap sedia untuk melayani dan diutus kapanpun dan dimanapun kita siap menghadapi apa yang akan terjadi. Sedangkan dari ayat 36 dinyatakan bahwa murid Yesus seharusnya bersikap seperti hamba yang menantikan kembalinya tuan mereka dari pesta. Hamba yang baik mestinya siap setiap saat menyambut kedatangan tuannya. Adanya kata “menantikan” merujuk adanya suatu relasi yang akrab dan penuh cinta sehingga terkandung makna siap setia.

Kehidupan Nabi Nuh adalah teladan kehidupan dengan sikap berjaga-jaga setiap hari setiap saat akan hadirnya Tuhan, yang pasti hadir tapi tidak tahu kapan saatnya. Juga Bunda Maria yang memiliki “semangat tanpa sambat” yang selalu siap dan mengatakan “ya” untuk menerima perutusan meskipun berat resikonya serta selalu percaya sepenuhnya akan rencana Tuhan.

Kegiatan ibadat rosario dilanjutkan pada hari Kamis tanggal 26-10-2023 di rumah Yasinta Katimah, seorang nenek yang sudah berusia 83 tahun yang merasa sangat senang jika di rumahnya dipakai untuk pertemuan lingkungan, terlebih doa rosario. Hal ini terlihat dari pertanyaan yang diungkapkan saat awal bulan Oktober ketika jadwal sudah dibuat dan kebetulan rumah nenek tersebut tidak terjadwal untuk ketempatan. Untungnya ada salah salah satu keluarga terjadwal yang tidak bisa menerima kehadiran umat untuk melaksanakan ibadat rosario sehingga dengan mudah dipindahkan di rumah nenek Yasinta ini pelaksanaannya.

Pada ibadat kali ini, Maria Fransiska Diah, seorang guru di sekolah eksperimen Mangunan yang bertugas untuk memimpin ibadat rosario dan memberikan renungan berdasarkan bacaan injil Lukas 12:49-53 tentang kedatangan Yesus yang membawa pemisahan. Hal yang menarik perhatian adalah ayat 51 yang menyatakan bahwa Yesus datang tidak untuk membawa damai melainkan pertentangan. Banyak orang ingin damai, yakni suatu kondisi dimana ada rasa tenang dan nyaman karena telah terwujudnya suatu rencana dan keinginannya. Damai juga merupakan suatu rahmat yang selalu kita doakan, seperti saat Ekaristi kita berdoa “Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia berilah kami damai”. Berbagai cara dilakukan orang untuk memperjuangkan hidup damai dan banyak yang merasa damai ketika berhasil mendapatkan dan bisa menikmati hal-hal duniawi tetapi tanpa disadari menjadi hamba dosa.

Kenikmatan duniawi adalah damai yang sementara, damai yang sesungguhnya adalah ketika kita mentaati perintah Tuhan dan setia pada Tuhan. Dalam bacaan ini bukan damai yang dibawa Yesus tapi pertentangan. Jika direnungkan lebih dalam pertentangan itu sering muncul dalam diri kita. Apakah kita mau mengikuti jalan Tuhan yang kadang tidak selalu membuat “damai” atau justru melawanNya demi memuaskan keinginan kita sendiri. Yang jelas mengikuti Yesus merupakan perjuangan yang memurnikan agar kita tetap setia meskipun keadaan sedang susah. Perjuangan kadang juga bisa menjauhkan kita dari teman atau keluarga, namun jangan sampai kita menyerah pada mereka. Renungan diakhiri dengan ajakan untuk mohon rahmatNya supaya dalam pertentangan yang terjadi kita dimampukan untuk memenangkan Yesus dalam setiap kehidupan kita.

Kegiatan ibadat rosario terakhir hari senin 30-10-2023 sebagai penutup doa rosario secara bersama sebagai suatu lingkungan dilaksanakan di rumah keluarga FX Dapiyanta serta dipimpin oleh YH Bintang Nusantara, seorang dosen di fakultas pendidikan agama Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pada kesempatan ini umat diajak untuk merenungkan bacaan injil Lukas 13 : 18-21 yakni perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi.

Kerajaan Allah seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan di kebun, yang akan tumbuh dan menjadi pohon dan burung bersarang di cabangnya. Kerajaan Allah juga seumpama ragi yang diadukkan dalam adonan kue dan menjadikannya mekar dan enak. Berdasarkan bacaan ini umat diajak untuk melihat potensi pertumbuhan imannya, sudahkah seperti biji sawi atau ragi. Seandainya kita biji sawi sudahkah kita tumbuh dan berkembang menjadi pohon serta tempat burung bersarang, seandainya kita ragi sudahkah kita membuat kuenya mekar dan enak.

Sebagai contoh konkrit yang dapat direfleksikan di lingkungan St Maria adalah bapak dan ibu yang diberi kesempatan untuk memimpin ibadat rosario bulan Oktober ini dipaksa untuk mencari dan memberikan permenungan serta menyampaikannya kepada umat. Suatu kesempatan untuk menumbuh kembangkan imannya agar menjadi pohon yang berbuah lebat atau menjadikan adonan yang memekarkan kuenya mulai dari lingkup kecil di dalam lingkungan kita. Suatu potensi yang semula belum nampak, menjadi samar-samar terlihat dan diharapkan semakin jelas terlihat. Seperti biji sawi dan ragi, biji sawi dan ragi sesuatu yang kecil dan tidak nampak tapi punya nilai yang luar biasa.

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *