Ajak Si Kecil Mengikuti Misa dengan Khidmat

 

(Illustration of Stickman Kids Praying Besides Jesus Christ)

 

Tangisan bayi terdengar dari  belakang gereja. Di sudut lain dua orang balita yang nampaknya kakak beradik menikmati biskuit dengan anteng. Remahan biskuit berjatuhan di bawah bangku. Beberapa anak-anak berlarian di halaman gereja, tak mempedulikan orang dewasa yang khusyuk mengikuti misa. Tak jauh dari mimbar altar seorang Ibu memasang wajah angker saat si kecil mulai gaduh dan banyak bergerak.

“Pemandangan seperti  ini sering kita jumpai saat mengikuti misa di gereja. Ada orangtua yang cuek dan membiarkan anaknya “begijikan”  meski kegaduhannya terkadang mengganggu umat lain. Tapi ada juga orang tua yang dengan telaten meminta si anak duduk manis di bangku mengikuti  misa bahkan memberikan cubitan kecil jika si anak tidak bisa diajak kompromi” kata Romo Budi Haryana , PR tempo hari saat penulis berbincang dengan beliau.

 

Kehadiran anak-anak dalam misa kudus sangatlah penting. Saat mengikuti misa, secara tidak langsung anak akan belajar tentang tata cara misa, doa dan nyanyian yang digunakan ketika misa serta mengenal tentang Yesus dari bacaan kitab suci.

Sekolah minggu yang diadakan berbarengan dengan waktu misa dibolehkan, tetapi sebaiknya tidak lebih dari 2x dalam satu bulan. Jika anak-anak tidak pernah mengikuti misa dikawatirkan anak malah tidak mengenal akan makna misa itu sendiri dan tidak terbiasa mengikuti misa kudus yang merupakan inti dari hidup menggereja.

Akan lebih baik jika ada satu tempat yang dikhususkan bagi anak-anak ketika mengikuti misa, bisa didampingi orangtua ataupun pendamping sekolah minggu.

Anak-anak merupakan bagian dari  gereja. Anak-anak bisa terlibat dalam misa dan dianjurkan mengikuti misa atau ibadah yang lain. Walaupun kehadiran anak-anak  terkadang menimbulkan keributan “kudus”, gerakan yang sedikit mengganggu tetapi sudah menjadi kewajiban bagi umat untuk tidak lantas menyalahkan orangtua anak tersebut. Romo juga pasti memahami kondisi tersebut, terlebih orang tua yang wajib bertanggung jawab mengawasi si kecil agar bisa mengikuti misa dengan khitmad.

“Kebiasaan menuruti si anak untuk keluar dari gereja sebaiknya dihindari” Romo Budi menambahkan. Jangan sedikit-sedikit menuruti anak yang rewel dengan membawa keluar. Karena akan menjadi kebiasaan. Biarkan rewel sebentar, beri pengertian untuk tetap didalam gereja mengikuti misa. Boleh saja membawa makanan kecil bagi batita, seiring waktu mereka juga akan malu jika makan di gereja tetapi kebiasaan untuk tetap duduk di gereja dan tidak keluar saat ibadah akan mendarah daging.

Setiap orangtua memiliki karakter yang berbeda. Ada yang tidak tega memarahi anak, ada yang cuek dan membiarkan anak berlarian sesuka hati tapi ada juga yang tegas bahkan sampai mendaratkan cubitan kecil di paha si anak agar dia belajar duduk manis mengikuti misa.

Apakah anak-anak mengganggu umat yang lain? Bisa jadi iya, tapi bisa saja tidak. Sepanjang polah tingkah mereka masih bisa ditolerasi biarkan mereka di dalam gereja, jangan biarkan berkeliaran di luar gereja.  Ada sikap pembenaran terhadap anak yang terlalu “mengganggu” dengan pernyataan nanti kalau sudah besar pasti akan duduk sendiri. Tetapi hal itu tidak tepat. Setelah usia 3 tahun anak-anak sudah bisa diberi pengertian tentang yang boleh dan tidak boleh. Beri kesempatan untuk keluar dari dalam gereja hanya satu kali. Beri pengertian sejak awal dan anak sudah harus tahu akan konsistensi. Apalagi jika anak sudah berumur lima atau enam tahun keatas dimana biasanya anak sudah mulai sekolah taman kanak-kanak. Tentunya dia akan lebih bisa berkonsentrasi, duduk tenang, tak lagi makan di gereja, membawa mainan ataupun berlarian kesana-kemari.

Dibutuhkan pemahaman dan effort lebih dari banyak pihak agar misa bisa berjalan khidmat dan anak-anak tetap bisa mengikuti misa kudus.  Umat yang tidak memiliki anak kecil harus lebih memahami akan keberadaan anak kecil dengan “aktivitas” mereka, orang tua senantiasa mengkondisikan si kecil untuk mengikuti misa dengan baik dan romo yang memimpin misa juga harus  berlegowo jika tiba-tiba terdengar “keributan” kecil.

Terkadang orang tua mengecilkan dirinya dengan beranggapan anak saya tidak bisa diam, duduk tenang, biar saja mereka bermain di luar. Anggapan seperti itu tidak selamanya benar. Dengan pembiasaan, pemahaman dan terkadang sedikit ketegasan anak-anak akan menjadi pribadi yang dengan khusyuk mengikuti misa dengan durasi waktu yang lama dan tidak “menganggu” umat lain.

Mari mengajak si kecil untuk beribadah bersama ke gereja karena  YESUS berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-KU; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”  (Matius 19 : 14)

 

Primahapsari

Travel-Lifestyle-Food Blogger . Visit us at www.primahapsari,com / www.ceritapiknik,com

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *